Selasa, 24 Mei 2011

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah


Penerimaan Santri Baru PP TAHFIZH ALQURAN HARUN ASY-SYAFII Yogyakarta Tahun Ajaran 2011/2012

Posted: 23 May 2011 09:16 PM PDT

PONDOK PESANTREN TAHFIZH ALQURAN HARUN ASY-SYAFII

(Karangkajen – Yogyakarta)

Membuka pendaftaran calon santri baru TA 2011/2012.

(Insya Allah mencetak para lulusan yang hafal Al-Quran dengan baik selama 2 tahun)

Visi Pesantren :

Mewujudkan calon-calon Ulama yang Hafal Al-Qur'an, memahami  Islam menurut pemahaman Rosulullah dan para sahabat, serta mampu mengamalkan dan mendakwahkannya di tengah-tengah masyarakat.

Misi Pesantren :

  1. Membina para Santri hingga hafal Al Quran 30 Juz.
  2. Membekali pengetahuan keislaman sesuai dengan pemahaman Rosulullah dan para sahabat.
  3. Mendidik santri untuk berakhlakul karimah dengan mengamalkan kandungan Al-Quran.

Syarat-syarat Pendaftaran :

  1. laki-laki.
  2. Umur minimal 15 tahun.
  3. Memiliki Ijazah setingkat SD/MI.
  4. Menyerahkan Foto Kopi KTP/ identitas sebanyak 2 lembar
  5. Menyerahkan pas foto 3×4 sebanyak 4 lembar.
  6. Menyerahkan surat izin belajar dari orang tua/wali.
  7. Sanggup mentaati dan berkomitmen terhadap tata tertib pondok.

Fasilitas :

  1. Guru Tahfizh yang bersanad dengan kompetensi Qiroah Sab'ah.
  2. Asrama yang bersih, nyaman dan tenang.
  3. Dapur dan fasilitas memasak.
  4. Beras dan air minum RO.

Biaya Pendaftaran dan Pendidikan :

  1. Biaya pendaftaran Rp. 50.000.
  2. Biaya Pangkal Rp. 150.000 (di bayar setelah di nyatakan diterima dan pada saat melakukan daftar ulang).
  3. SPP bulanan Rp. 10.000/bulan.

Waktu dan Tempat Pendaftaran :

  1. Pendaftaran Gelombang I = 27 April-26 Mei 2011, Tes 29 Mei. Pengumuman 31 mei.
  2. Pendaftaran Gelombang II = 1 juni -30 juni, Tes 3 juli. Pengumuman 5 juli.

Tempat Pendaftaran : Pondok Pesantren Tahfizh Al Quran Harun Asy-Syafii Yogyakarta.

Contact Person :

Ustadz Supratman : 081229455632

Ustadz Hasan          : 085742357677

Penerimaan Santri Baru PP Al-I’tisham Tahun Ajaran 2011/2012

Posted: 23 May 2011 09:06 PM PDT

INFORMASI PENERIMAAN SANTRI BARU

PONDOK PESANTREN AL-I'TISHAM

WONOSARI GUNUNGKIDUL YOGYAKARTA

TAHUN PELAJARAN 2011/ 2012

Yayasan Islam  Al I'tisham

Akte Notaris : Ny.Koesharyati Tito,SH  Nomor : 002 :1996 /10 April 1996

PROGRAM PENDIDIKAN

Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-I'tisham (Putra/Putri terpisah)

  • Status Terakreditasi B (BAP S/M) No.22.1/BAP/TU/XI/2008
  • Daya tampung 2 kelas ;  Putra = 36 siswa, Putri = 36 siswa .
  • Masa Study3 tahun plus 1 tahun pendalaman materi.

SMK Mardhotullah Jurusan Teknologi Hasil Pertanian (khusus Putri)

  • Daya tampung 1 kelas ;36 siswa putri.
  • Masa Pendidikan       : 3 (tiga) tahun ditambah 1 (satu) tahun pengabdian.

Takhasus Tahfidzul Qur'an (khusus putri)

  • Daya tampung 1 kelas : 10 santri putri.
  • Masa pendidikan  : 3 (tiga) tahun ditambah 1(satu) tahun pengabdian.

FASILITAS PENDIDIKAN

Sarana pendidikan terpisah untuk Putra/Putri, Masjid,Asrama,Ruang kelas Representatif , Ruang Praktek SMK, Koperasi, Unit Usaha.

TENAGA PENDIDIK

Pendidik (Pengajar dan Pengasuh) dari alumni Pondok Pesantren terpercaya dan Perguruan Tinggi terkemuka di Indonesia yang memiliki komitmen  terhadap pendidikan generasi Islam.

EKSTRAKURIKULER

Beladiri, Menjahit,TataBoga, Mading,Bekam dan Thibbun Nabawi.

SYARAT-SYARAT PENDAFTARAN

SYARAT KHUSUS

Calon santri MTs :

1.  Putra / Putri

2.  Tamatan SD/MI/SU

Calon Santri SMK PHP :

  1. Putri
  2. Tamatan SMP/MTs/SW

PERSYARATAN UMUM

  1. Diantar orang tua / wali santri.
  2. Mengisi Formulir pendaftaran.
  3. Mengisi Pernyataan Izin orangtua / wali.
  4. Mengisi Blangko kesanggupan orangtua/wali.
  5. Menyerahkan ijazah asli & SKHUN asli
  6. FC Ijazah = 5 lembar dilegalisir
  7. FC SKHUN = 5 lembar dilegalisir
  8. FC Akte kelahiran = 2 lembar
  9. FC KK dan KTP orang tua= 1 lembar

10.  Surat keterangan /Kartu miskin (yg menghendaki keringanan biaya)

11.   Pas Photo terbaru 2 x 3 = 5 Lbr, 3 x 4 = 5 lbr (putrid wajib berjilbab)

12.   Biaya pendaftaran Rp.75.000

WAKTU PENDAFTARAN

Pendaftaran : 20 Juni – 5 Juli 2011

Tes Seleksi : 6 Juli 2011

Pengumuman & daftar Ulang : 7 Juli 2011

Masa Ta'aruf Santri Baru : 9 – 14 Juli 2011

Mulai belajar :16 Juli 2011

BIAYA  PENDIDIKAN

  1. 1. JALUR SWADANA

Biaya SPP, Asrama,kesehatan,Uang makan ditanggung orangtua/wali  dengan pilihan :

PILIHAN 1 Rp.250.000,- / bulan

PILIHAN 2 Rp. 300.000,-/bulan

PILIHAN 3 Rp.350.000,-/bulan

  1. 2. JALUR BEASISWA

Cara : mengajukan kepada pihak pesantren dengan persyaratan :

  • Benar-benar dari keluarga tidak mampu/miskin/yatim.
  • Orang tua/wali datang sendiri.
  • Fotocopi KTP dan Kartu keluarga Orangtua/wali masing-masing 1 lembar
  • Kartu jamkesmas/SKTM/surat miskindari Pemerintah Desa asli dan Fotocopy legalisir 2 lembar.
  • Surat permohonan (disediakan pesantren)
  • Biaya pendidikan, biaya Asrama, Kesehatan, uang makan disubsidi pihak Pesantren, sedangkan orang tua/wali hanya dibebani Rp.100.000,- /perbulan.

BIAYA DAFTAR ULANG

  1. 1. MTS PUTRA

Kitab,Buku Modul Pelajaran,LKS (1 tahun) :300.000

Infaq  Prasarana :200.000

Infaq pengembangan :400.000

Masa Ta’aruf Santri Baru (OSPEK) :75.000

Seragam :350.000

Infaq  Koperasi :50.000

Jumlah Keseluruhan : Rp. 1.375.000

  1. 2. MTS PUTRI

Kitab,Buku Modul Pelajaran,LKS (1 tahun) :300.000

Infaq  Prasarana :200.000

Infaq pengembangan :400.000

Masa Ta’aruf Santri Baru (OSPEK) :75.000

Seragam :500.000

Infaq  Koperasi :50.000

Jumlah Keseluruhan : Rp. 1.525.000

  1. 3. SMK PUTRI

Kitab,Buku Modul Pelajaran,LKS (1 tahun) :350.000

Infaq  Prasarana :200.000

Infaq pengembangan :400.000

Masa Ta’aruf Santri Baru (OSPEK) :75.000

Seragam :500.000

Infaq  Koperasi :50.000

Biaya Praktik : 200.000

Jumlah Keseluruhan : Rp. 1.525.000

  1. 4. Takhasus Putri

Kitab,Buku Modul Pelajaran,LKS (1 tahun) :150.000

Infaq  Prasarana :200.000

Infaq pengembangan :400.000

Masa Ta’aruf Santri Baru (OSPEK) :75.000

Seragam :500.000

Infaq  Koperasi :50.000

Jumlah Keseluruhan : Rp. 1.175.000

Keterangan Seragam :

MTs Putra                                 : 3 stel seragam dan 1 Stel Seragam olahraga.

MTs Putri & SMK Putri   : 3 stel seragam.

Takhasus Putri                           : 2 stel seragam.

TEMPAT PENDAFTARAN

Kampus Putra      : Gg.Wijayakusuma 140, Kepek,Wonosari,Gunungkidul,D.I.Yogyakarta 55813

Kampus Putri       : Banaran RT 12 RW 03 Playen,Playen, Gunungkidul,D.I.Yogyakarta 55861

INFORMASI DAN KONSULTASI

Telpon              : (0274) 7486796

E-mail               : pontrenalitishom@gmail.com

Website            : www.pontrenalitisham.wordpress.com

Kontak Person.

Pimpinan Pesantren           : Ust.Sa'id Syamsul Huda: 085228320016.

Panitia PSB Putra              : Ust. Musthofa :085292607055.

Panitia PSB Putri               : Ust. Abdul Wahid : 085292693743.

Kajian Umum Tuban (29 Mei 2011): DEMONSTRASI, BOM BUNUH DIRI dan PENGGULINGAN PENGUASA BOLEHKAH DALAM ISLAM ?

Posted: 23 May 2011 09:02 PM PDT

Hadirillah Dauroh Kota Tuban Insyaallah diselenggarakan pada:

Tema            : “DEMONSTRASI, BOM BUNUH DIRI dan PENGGULINGAN PENGUASA
BOLEHKAH DALAM ISLAM ????

Oleh            : Ustadz Abu Sa’ad MA Pimpinan Ponpes BINBAZ,  Joqjakarta

Tempat          : Masjid BAITURROHMAN\, Gedong Ombo (belakang PDS/pasar sepeda Tuban)

Waktu           :Ahad, 29 mei 2011, 08.30 – selesai

Disediakan makan siang gratis !!!!

Info  :08884903543,08123410640

Penyelenggara ta’mir masjid Baiturrohman Gedong Ombo Tuban

Soal-191: Hukum Organisasi Masjid?

Posted: 23 May 2011 08:32 PM PDT

Ust, pada jaman sekarang, setiap masjid terdapat takmir yang mengurusi dan mengorganisir masjid, apakah hal ini ada pada jaman nabi?

Dijawab Oleh Ust Aris Munandar

Jawabannya Klik Player:

Download

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Senin, 23 Mei 2011

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah


Soal-190: Memisahkan Shalat Anak-Anak Di Masjid

Posted: 22 May 2011 08:28 PM PDT

Bolehkah dua shalat jama’ah dilaksanakan dalam satu masjid untuk memisahkan shalatnya anak-anak dengan orang dewasa agar anak-anak tidak mengganggu shalatnya orang dewasa?

Dijawab Oleh Ust Aris Munandar

Jawabannya Klik Player:

Download

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Inginku Sempurnakan Separuh Agamaku

Posted: 22 May 2011 05:00 PM PDT

Di zaman ini tidak ragu lagi penuh godaan di sana-sini. Di saat wanita-wanita sudah tidak lagi memiliki rasa malu. Di saat kaum hawa banyak yang tidak lagi berpakaian sopan dan syar'i. Di saat perempuan lebih senang menampakkan betisnya daripada mengenakan jilbab yang menutupi aurat. Tentu saja pria semakin tergoda dan punya niatan jahat, apalagi yang masih membujang. Mau membentengi diri dari syahwat dengan puasa amat sulit karena ombak fitnah pun masih menjulang tinggi. Solusi yang tepat di kala mampu secara fisik dan finansial adalah dengan menikah.

Menyempurnakan Separuh Agama

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu,  ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نِصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

"Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya." (HR. Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625)

Lihat bahwa di antara keutamaan menikah adalah untuk menyempurnakan separuh agama dan kita tinggal menjaga diri dari separuhnya lagi. Kenapa bisa dikatakan demikian? Para ulama jelaskan bahwa yang umumnya merusak agama seseorang adalah kemaluan dan perutnya. Kemaluan yang mengantarkan pada zina, sedangkan perut bersifat serakah. Nikah berarti membentengi diri dari salah satunya, yaitu zina dengan kemaluan. Itu berarti dengan menikah separuh agama seorang pemuda telah terjaga, dan sisanya, ia tinggal menjaga lisannya.

Al Mula 'Ali Al Qori rahimahullah dalam Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih berkata bahwa sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam "bertakwalah pada separuh yang lainnya", maksudnya adalah bertakwalah pada sisa dari perkara agamanya. Di sini dijadikan menikah sebagai separuhnya, ini menunjukkan dorongan yang sangat untuk menikah.

Al Ghozali rahimahullah (sebagaimana dinukil dalam kitab Mirqotul Mafatih) berkata, "Umumnya yang merusak agama seseorang ada dua hal yaitu kemaluan dan perutnya. Menikah berarti telah menjaga diri dari salah satunya. Dengan nikah berarti seseorang membentengi diri dari godaan syaithon, membentengi diri dari syahwat (yang menggejolak) dan lebih menundukkan pandangan."

Kenapa Masih Ragu untuk Menikah?

Sebagian pemuda sudah diberikan oleh Allah keluasan rizki. Ada yang kami temui sudah memiliki usaha yang besar dengan penghasilan yang berkecukupan. Ia bisa mengais rizki dengan mengolah beberapa toko online. Ada pula yang sudah bekerja di perusahaan minyak yang penghasilannya tentu saja lebih dari cukup. Tetapi sampai saat ini mereka  belum juga menuju pelaminan. Ada yang beralasan belum siap. Ada lagi yang beralasan masih terlalu muda. Ada yang katakan  pula ingin pacaran dulu. Atau yang lainnya ingin sukses dulu dalam bisnis atau dalam berkarir dan dikatakan itu lebih urgent. Dan berbagai alasan lainnya yang diutarakan. Padahal dari segi finansial, mereka sudah siap dan tidak perlu ragu lagi akan kemampuan mereka. Supaya memotivasi orang-orang semacam itu, di bawah ini kami utarakan manfaat nikah yang lainnya.

(1) Menikah akan membuat seseorang lebih merasakan ketenangan.

Coba renungkan ayat berikut, Allah Ta'ala berfirman,

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya." (QS. Ar-Ruum: 21). Lihatlah ayat ini menyebutkan bahwa menikah akan lebih tentram karena adanya pendamping. Al Mawardi dalam An Nukat wal 'Uyun berkata mengenai ayat tersebut, "Mereka akan begitu tenang ketika berada di samping pendamping mereka karena Allah memberikan pada nikah tersebut ketentraman yang tidak didapati pada yang lainnya." Sungguh faedah yang menenangkan jiwa setiap pemuda.

(2) Jangan khawatir, Allah yang akan mencukupkan rizki

Dari segi finansial sebenarnya sudah cukup, namun selalu timbul was-was jika ingin menikah. Was-was yang muncul, "Apa bisa rizki saya mencukupi kebutuhan anak istri?" Jika seperti itu, maka renungkanlah ayat berikut ini,

وَأَنكِحُوا اْلأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. An Nuur: 32). Nikah adalah suatu ketaatan. Dan tidak mungkin Allah membiarkan hamba-Nya sengsara ketika mereka ingin berbuat kebaikan semisal menikah.

Di antara tafsiran Surat An Nur ayat 32 di atas adalah: jika kalian itu miskin maka Allah yang akan mencukupi rizki kalian. Boleh jadi Allah mencukupinya dengan memberi sifat qona'ah (selalu merasa cukup) dan boleh jadi pula Allah mengumpulkan dua rizki sekaligus (Lihat An Nukat wal 'Uyun). Jika miskin saja, Allah akan cukupi rizkinya. Bagaimana lagi jika yang bujang sudah berkecukupan dan kaya?

Dari ayat di atas, Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata,

التمسوا الغنى في النكاح

"Carilah kaya (hidup berkecukupan) dengan menikah."  (Lihat Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim mengenai tafsir ayat di atas).

Disebutkan pula dalam hadits bahwa Allah akan senantiasa menolong orang yang ingin menjaga kesucian dirinya lewat menikah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang tiga golongan yang pasti mendapat pertolongan Allah. Di antaranya,

وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ

"… seorang yang menikah karena ingin menjaga kesuciannya." (HR. An Nasai no. 3218, At Tirmidzi no. 1655. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Ahmad bin Syu'aib Al Khurasani An Nasai membawakan hadits tersebut dalam Bab "Pertolongan Allah bagi orang yang nikah yang ingin menjaga kesucian dirinya". Jika Allah telah menjanjikan demikian, itu berarti pasti. Maka mengapa mesti ragu?

(3) Orang yang menikah berarti menjalankan sunnah para Rasul

Allah Ta'ala berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan." (QS. Ar Ra'du: 38). Ini menunjukkan bahwa para rasul itu menikah dan memiliki keturunan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أَرْبَعٌ مِنْ سُنَنِ الْمُرْسَلِينَ الْحَيَاءُ وَالتَّعَطُّرُ وَالسِّوَاكُ وَالنِّكَاحُ

"Empat perkara yang termasuk sunnah para rasul, yaitu sifat malu, memakai wewangian, bersiwak dan menikah." (HR. Tirmidzi no. 1080 dan Ahmad 5/421. Hadits ini dho'if sebagaimana kata Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu'aib Al Arnauth. Namun makna hadits ini sudah didukung oleh ayat Al Qur'an yang disebutkan sebelumnya)

(4) Menikah lebih akan menjaga kemaluan dan menundukkan pandangan

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

"Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah[1], maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya." (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400). Imam Nawawi berkata makna baa-ah dalam hadits di atas terdapat dua pendapat di antara para ulama, namun intinya kembali pada satu makna, yaitu sudah memiliki kemampuan finansial untuk menikah. Jadi bukan hanya mampu berjima' (bersetubuh), tapi hendaklah punya kemampuan finansial, lalu menikah. Para ulama berkata, "Barangsiapa yang tidak mampu berjima' karena ketidakmampuannya untuk memberi nafkah finansial, maka hendaklah ia berpuasa untuk mengekang syahwatnya." (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim)

Itulah keutamaan menikah. Semoga membuat mereka-mereka tadi semakin terdorong untuk menikah. Berbeda halnya jika memang mereka ingin seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang belum menikah sampai beliau meninggal dunia. Beliau adalah orang yang ingin memberi banyak manfaat untuk umat dan itu terbukti. Itulah yang membuatnya mengurungkan niat untuk menikah demi maksud tersebut. Sedangkan mereka-mereka tadi di atas, bukan malah menambah manfaat, bahkan diri mereka sendiri binasa karena godaan wanita yang semakin mencekam di masa ini.

Menempuh Jalan yang Benar

Kami menganjurkan untuk segera menikah di sini bagi yang sudah berkemampuan, bukan berarti ditempuh dengan jalan yang keliru. Sebagian orang menyangka bahwa menikah harus lewat pacaran dahulu supaya lebih mengenal pasangannya. Itu pendapat keliru karena tidak pernah diajarkan oleh Islam. Pacaran tentu saja akan menempuh jalan yang haram seperti mesti bersentuhan, berjumpa dan saling pandang, ujung-ujungnya pun bisa zina terjadilah MBA (married be accident). Semua perbuatan tadi yang merupakan perantara pada zina diharamkan sebagaimana firman Allah Ta'ala,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al Isro': 32)

Kemudian nasehat kami pula bagi mahasiswa yang masih kuliah (masih sekolah) bahwa bersabarlah untuk menikah. Sebagian mahasiswa yang belum rampung kuliahnya biasanya sering "ngambek" pada ortunya untuk segera nikah, katanya sudah tidak kuat menahan syahwat. Padahal kerja saja ia belum punya dan masih mengemis pada ortunya. Bagaimana bisa ia hidupi istrinya nanti? Kami nasehatkan, bahagiakan ortumu dahulu sebelum berniat menikah. Artinya lulus kuliah dahulu agar ortumu senang dan bahagia karena itulah yang mereka inginkan darimu dan tugasmu adalah berbakti pada mereka. Setelah itu carilah kerja, kemudian utarakan niat untuk menikah. Semoga Allah mudahkan untuk mencapai maksud tersebut. Oleh karenanya, jika memang belum mampu menikah, maka perbanyaklah puasa sunnah dan rajin-rajinlah menyibukkan diri dengan kuliah, belajar ilmu agama, dan kesibukan yang manfaat lainnya. Semoga itu semakin membuatmu melupakan nikah untuk sementara waktu.

Adapun yang sudah mampu untuk menikah secara fisik dan finansial, janganlah menunda-nunda! Jangan Saudara akan menyesal nantinya karena yang sudah menikah biasa katakan bahwa menikah itu enaknya cuma 1%, yang sisanya (99%) "enak banget". Percaya deh!

Semoga sajian ini bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.

Panggang-Gunung Kidul, 26 Jumadal Ula 1432 H (29/04/2011)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id


[1] Baa-ah ada tiga penyebutan lainnya: [1] al baah (الْبَاءَة), [2] al baa' (الْبَاء), dan [3] al baahah (الْبَاهَة). Lihat Syarh Muslim, An Nawawi, 5/70, Mawqi' Al Islam.

Minggu, 22 Mei 2011

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah


Hukum Memakai Cadar dalam Pandangan 4 Madzhab

Posted: 21 May 2011 10:00 PM PDT

Wanita bercadar seringkali diidentikkan dengan orang arab atau timur-tengah. Padahal memakai cadar atau menutup wajah bagi wanita adalah ajaran Islam yang didasari dalil-dalil Al Qur’an, hadits-hadits shahih serta penerapan para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam serta para ulama yang mengikuti mereka. Sehingga tidak benar anggapan bahwa hal tersebut merupakan sekedar budaya timur-tengah.

Berikut ini sengaja kami bawakan pendapat-pendapat para ulama madzhab, tanpa menyebutkan pendalilan mereka, untuk membuktikan bahwa pembahasan ini tertera dan dibahas secara gamblang dalam kitab-kitab fiqih 4 madzhab. Lebih lagi, ulama 4 madzhab semuanya menganjurkan wanita muslimah untuk memakai cadar, bahkan sebagiannya sampai kepada anjuran wajib. Beberapa penukilan yang disebutkan di sini hanya secuil saja, karena masih banyak lagi penjelasan-penjelasan serupa dari para ulama madzhab.

Madzhab Hanafi

Pendapat madzhab Hanafi, wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah.

* Asy Syaranbalali berkata:

وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها باطنهما وظاهرهما في الأصح ، وهو المختار

"Seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam serta telapak tangan luar, ini pendapat yang lebih shahih dan merupakan pilihan madzhab kami" (Matan Nuurul Iidhah)

* Al Imam Muhammad ‘Alaa-uddin berkata:

وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ، وقدميها في رواية ، وكذا صوتها، وليس بعورة على الأشبه ، وإنما يؤدي إلى الفتنة ، ولذا تمنع من كشف وجهها بين الرجال للفتنة

"Seluruh badan wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam. Dalam suatu riwayat, juga telapak tangan luar. Demikian juga suaranya. Namun bukan aurat jika dihadapan sesama wanita. Jika cenderung menimbulkan fitnah, dilarang menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki" (Ad Durr Al Muntaqa, 81)

* Al Allamah Al Hashkafi berkata:

والمرأة كالرجل ، لكنها تكشف وجهها لا رأسها ، ولو سَدَلَت شيئًا عليه وَجَافَتهُ جاز ، بل يندب

"Aurat wanita dalam shalat itu seperti aurat lelaki. Namun wajah wanita itu dibuka sedangkan kepalanya tidak. Andai seorang wanita memakai sesuatu di wajahnya atau menutupnya, boleh, bahkan dianjurkan" (Ad Durr Al Mukhtar, 2/189)

* Al Allamah Ibnu Abidin berkata:

تُمنَعُ من الكشف لخوف أن يرى الرجال وجهها فتقع الفتنة ، لأنه مع الكشف قد يقع النظر إليها بشهوة

"Terlarang bagi wanita menampakan wajahnya karena khawatir akan dilihat oleh para lelaki, kemudian timbullah fitnah. Karena jika wajah dinampakkan, terkadang lelaki melihatnya dengan syahwat" (Hasyiah ‘Alad Durr Al Mukhtaar, 3/188-189)

* Al Allamah Ibnu Najiim berkata:

قال مشايخنا : تمنع المرأة الشابة من كشف وجهها بين الرجال في زماننا للفتنة

"Para ulama madzhab kami berkata bahwa terlarang bagi wanita muda untuk menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki di zaman kita ini, karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah" (Al Bahr Ar Raaiq, 284)

Beliau berkata demikian di zaman beliau, yaitu beliau wafat pada tahun 970 H, bagaimana dengan zaman kita sekarang?

Madzhab Maliki

Mazhab Maliki berpendapat bahwa wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Bahkan sebagian ulama Maliki berpendapat seluruh tubuh wanita adalah aurat.

* Az Zarqaani berkata:

وعورة الحرة مع رجل أجنبي مسلم غير الوجه والكفين من جميع جسدها ، حتى دلاليها وقصَّتها . وأما الوجه والكفان ظاهرهما وباطنهما ، فله رؤيتهما مكشوفين ولو شابة بلا عذر من شهادة أو طب ، إلا لخوف فتنة أو قصد لذة فيحرم ، كنظر لأمرد ، كما للفاكهاني والقلشاني

"Aurat wanita di depan lelaki muslim ajnabi adalah seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan. Bahkan suara indahnya juga aurat. Sedangkan wajah, telapak tangan luar dan dalam, boleh dinampakkan dan dilihat oleh laki-laki walaupun wanita tersebut masih muda baik sekedar melihat ataupun untuk tujuan pengobatan. Kecuali jika khawatir timbul fitnah atau lelaki melihat wanita untuk berlezat-lezat, maka hukumnya haram, sebagaimana haramnya melihat amraad. Hal ini juga diungkapkan oleh Al Faakihaani dan Al Qalsyaani" (Syarh Mukhtashar Khalil, 176)

* Ibnul Arabi berkata:

والمرأة كلها عورة ، بدنها ، وصوتها ، فلا يجوز كشف ذلك إلا لضرورة ، أو لحاجة ، كالشهادة عليها ، أو داء يكون ببدنها ، أو سؤالها عما يَعنُّ ويعرض عندها

"Wanita itu seluruhnya adalah aurat. Baik badannya maupun suaranya. Tidak boleh menampakkan wajahnya kecuali darurat atau ada kebutuhan mendesak seperti persaksian atau pengobatan pada badannya, atau kita dipertanyakan apakah ia adalah orang yang dimaksud (dalam sebuah persoalan)" (Ahkaamul Qur’an, 3/1579)

* Al Qurthubi berkata:

قال ابن خُويز منداد ــ وهو من كبار علماء المالكية ـ : إن المرأة اذا كانت جميلة وخيف من وجهها وكفيها الفتنة ، فعليها ستر ذلك ؛ وإن كانت عجوزًا أو مقبحة جاز أن تكشف وجهها وكفيها

"Ibnu Juwaiz Mandad – ia adalah ulama besar Maliki – berkata: Jika seorang wanita itu cantik dan khawatir wajahnya dan telapak tangannya menimbulkan fitnah, hendaknya ia menutup wajahnya. Jika ia wanita tua atau wajahnya jelek, boleh baginya menampakkan wajahnya" (Tafsir Al Qurthubi, 12/229)

* Al Hathab berkata:

واعلم أنه إن خُشي من المرأة الفتنة يجب عليها ستر الوجه والكفين . قاله القاضي عبد الوهاب ، ونقله عنه الشيخ أحمد زرّوق في شرح الرسالة ، وهو ظاهر التوضيح

"Ketahuilah, jika dikhawatirkan terjadi fitnah maka wanita wajib menutup wajah dan telapak tangannya. Ini dikatakan oleh Al Qadhi Abdul Wahhab, juga dinukil oleh Syaikh Ahmad Zarruq dalam Syarhur Risaalah. Dan inilah pendapat yang lebih tepat" (Mawahib Jaliil, 499)

* Al Allamah Al Banaani, menjelaskan pendapat Az Zarqani di atas:

وهو الذي لابن مرزوق في اغتنام الفرصة قائلًا : إنه مشهور المذهب ، ونقل الحطاب أيضًا الوجوب عن القاضي عبد الوهاب ، أو لا يجب عليها ذلك ، وإنما على الرجل غض بصره ، وهو مقتضى نقل مَوَّاق عن عياض . وفصَّل الشيخ زروق في شرح الوغليسية بين الجميلة فيجب عليها ، وغيرها فيُستحب

"Pendapat tersebut juga dikatakan oleh Ibnu Marzuuq dalam kitab Ightimamul Furshah, ia berkata: ‘Inilah pendapat yang masyhur dalam madzhab Maliki’. Al Hathab juga menukil perkataan Al Qadhi Abdul Wahhab bahwa hukumnya wajib. Sebagian ulama Maliki menyebutkan pendapat bahwa hukumnya tidak wajib namun laki-laki wajib menundukkan pandangannya. Pendapat ini dinukil Mawwaq dari Iyadh. Syaikh Zarruq dalam kitab Syarhul Waghlisiyyah merinci, jika cantik maka wajib, jika tidak cantik maka sunnah" (Hasyiyah ‘Ala Syarh Az Zarqaani, 176)

Madzhab Syafi’i

Pendapat madzhab Syafi’i, aurat wanita di depan lelaki ajnabi (bukan mahram) adalah seluruh tubuh. Sehingga mereka mewajibkan wanita memakai cadar di hadapan lelaki ajnabi. Inilah pendapat mu’tamad madzhab Syafi’i.

* Asy Syarwani berkata:

إن لها ثلاث عورات : عورة في الصلاة ، وهو ما تقدم ـ أي كل بدنها ما سوى الوجه والكفين . وعورة بالنسبة لنظر الأجانب إليها : جميع بدنها حتى الوجه والكفين على المعتمد وعورة في الخلوة وعند المحارم : كعورة الرجل »اهـ ـ أي ما بين السرة والركبة ـ

"Wanita memiliki tiga jenis aurat, (1) aurat dalam shalat -sebagaimana telah dijelaskan- yaitu seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, (2) aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad, (3) aurat ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki, yaitu antara pusar dan paha" (Hasyiah Asy Syarwani ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 2/112)

* Syaikh Sulaiman Al Jamal berkata:

غير وجه وكفين : وهذه عورتها في الصلاة . وأما عورتها عند النساء المسلمات مطلقًا وعند الرجال المحارم ، فما بين السرة والركبة . وأما عند الرجال الأجانب فجميع البدن

"Maksud perkataan An Nawawi ‘aurat wanita adalah selain wajah dan telapak tangan’, ini adalah aurat di dalam shalat. Adapun aurat wanita muslimah secara mutlak di hadapan lelaki yang masih mahram adalah antara pusar hingga paha. Sedangkan di hadapan lelaki yang bukan mahram adalah seluruh badan" (Hasyiatul Jamal Ala’ Syarh Al Minhaj, 411)

* Syaikh Muhammad bin Qaasim Al Ghazzi, penulis Fathul Qaarib, berkata:

وجميع بدن المرأة الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ، وهذه عورتها في الصلاة ، أما خارج الصلاة فعورتها جميع بدنها

"Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan" (Fathul Qaarib, 19)

* Ibnu Qaasim Al Abadi berkata:

فيجب ما ستر من الأنثى ولو رقيقة ما عدا الوجه والكفين . ووجوب سترهما في الحياة ليس لكونهما عورة ، بل لخوف الفتنة غالبًا

"Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah telapak tangan, walaupun penutupnya tipis. Dan wajib pula menutup wajah dan telapak tangan, bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya cenderung menimbulkan fitnah" (Hasyiah Ibnu Qaasim ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 3/115)

* Taqiyuddin Al Hushni, penulis Kifaayatul Akhyaar, berkata:

ويُكره أن يصلي في ثوب فيه صورة وتمثيل ، والمرأة متنقّبة إلا أن تكون في مسجد وهناك أجانب لا يحترزون عن النظر ، فإن خيف من النظر إليها ما يجر إلى الفساد حرم عليها رفع النقاب

"Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh pula wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat. Kecuali jika di masjid kondisinya sulit terjaga dari pandnagan lelaki ajnabi. Jika wanita khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya melepaskan niqab (cadar)" (Kifaayatul Akhyaar, 181)

Madzhab Hambali

* Imam Ahmad bin Hambal berkata:

كل شيء منها ــ أي من المرأة الحرة ــ عورة حتى الظفر

"Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat, termasuk pula kukunya" (Dinukil dalam Zaadul Masiir, 6/31)

* Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz Al ‘Anqaari, penulis Raudhul Murbi’, berkata:

« وكل الحرة البالغة عورة حتى ذوائبها ، صرح به في الرعاية . اهـ إلا وجهها فليس عورة في الصلاة . وأما خارجها فكلها عورة حتى وجهها بالنسبة إلى الرجل والخنثى وبالنسبة إلى مثلها عورتها ما بين السرة إلى الركبة

"Setiap bagian tubuh wanita yang baligh adalah aurat, termasuk pula sudut kepalanya. Pendapat ini telah dijelaskan dalam kitab Ar Ri’ayah… kecuali wajah, karena wajah bukanlah aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, semua bagian tubuh adalah aurat, termasuk pula wajahnya jika di hadapan lelaki atau di hadapan banci. Jika di hadapan sesama wanita, auratnya antara pusar hingga paha" (Raudhul Murbi’, 140)

* Ibnu Muflih berkata:

« قال أحمد : ولا تبدي زينتها إلا لمن في الآية ونقل أبو طالب :ظفرها عورة ، فإذا خرجت فلا تبين شيئًا ، ولا خُفَّها ، فإنه يصف القدم ، وأحبُّ إليَّ أن تجعل لكـمّها زرًا عند يدها

"Imam Ahmad berkata: ‘Maksud ayat tersebut adalah, janganlah mereka (wanita) menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada orang yang disebutkan di dalam ayat‘. Abu Thalib menukil penjelasan dari beliau (Imam Ahmad): ‘Kuku wanita termasuk aurat. Jika mereka keluar, tidak boleh menampakkan apapun bahkan khuf (semacam kaus kaki), karena khuf itu masih menampakkan lekuk kaki. Dan aku lebih suka jika mereka membuat semacam kancing tekan di bagian tangan’" (Al Furu’, 601-602)

* Syaikh Manshur bin Yunus bin Idris Al Bahuti, ketika menjelaskan matan Al Iqna’ , ia berkata:

« وهما » أي : الكفان . « والوجه » من الحرة البالغة « عورة خارجها » أي الصلاة « باعتبار النظر كبقية بدنها »

"’Keduanya, yaitu dua telapak tangan dan wajah adalah aurat di luar shalat karena adanya pandangan, sama seperti anggota badan lainnya" (Kasyful Qanaa’, 309)

* Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata:

القول الراجح في هذه المسألة وجوب ستر الوجه عن الرجال الأجانب

"Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah wajib hukumnya bagi wanita untuk menutup wajah dari pada lelaki ajnabi" (Fatawa Nurun ‘Alad Darb, http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_4913.shtml)

Cadar Adalah Budaya Islam

Dari pemaparan di atas, jelaslah bahwa memakai cadar (dan juga jilbab) bukanlah sekedar budaya timur-tengah, namun budaya Islam dan ajaran Islam yang sudah diajarkan oleh para ulama Islam sebagai pewaris para Nabi yang memberikan pengajaran kepada seluruh umat Islam, bukan kepada masyarakat timur-tengah saja. Jika memang budaya Islam ini sudah dianggap sebagai budaya lokal oleh masyarakat timur-tengah, maka tentu ini adalah perkara yang baik. Karena memang demikian sepatutnya, seorang muslim berbudaya Islam.

Diantara bukti lain bahwa cadar (dan juga jilbab) adalah budaya Islam :

1.     Sebelum turun ayat yang memerintahkan berhijab atau berjilbab, budaya masyarakat arab Jahiliyah adalah menampakkan aurat, bersolek jika keluar rumah, berpakaian seronok atau disebut dengan tabarruj. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ

"Hendaknya kalian (wanita muslimah), berada di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian ber-tabarruj sebagaimana yang dilakukan wanita jahiliyah terdahulu" (QS. Al Ahzab: 33)

Sedangkan, yang disebut dengan jahiliyah adalah masa ketika Rasulullah Shallalahu’alihi Wasallam belum di utus. Ketika Islam datang, Islam mengubah budaya buruk ini dengan memerintahkan para wanita untuk berhijab. Ini membuktikan bahwa hijab atau jilbab adalah budaya yang berasal dari Islam.

2.     Ketika turun ayat hijab, para wanita muslimah yang beriman kepada Rasulullah Shallalahu’alaihi Wasallam seketika itu mereka mencari kain apa saja yang bisa menutupi aurat mereka.  'Aisyah Radhiallahu’anha berkata:

مَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ ( وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ ) أَخَذْنَ أُزْرَهُنَّ فَشَقَّقْنَهَا مِنْ قِبَلِ الْحَوَاشِي فَاخْتَمَرْنَ بِهَا

"(Wanita-wanita Muhajirin), ketika turun ayat ini: "Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka." (QS. Al Ahzab: 31), mereka merobek selimut mereka lalu mereka berkerudung dengannya." (HR. Bukhari 4759)

Menunjukkan bahwa sebelumnya mereka tidak berpakaian yang menutupi aurat-aurat mereka sehingga mereka menggunakan kain yang ada dalam rangka untuk mentaati ayat tersebut.

Singkat kata, para ulama sejak dahulu telah membahas hukum memakai cadar bagi wanita. Sebagian mewajibkan, dan sebagian lagi berpendapat hukumnya sunnah. Tidak ada diantara mereka yang mengatakan bahwa pembahasan ini hanya berlaku bagi wanita muslimah arab atau timur-tengah saja. Sehingga tidak benar bahwa memakai cadar itu aneh, ekstrim, berlebihan dalam beragama, atau ikut-ikutan budaya negeri arab.

Penukilan pendapat-pendapat para ulama di atas merupakan kesungguhan dari akhi Ahmad Syabib dalam forum Fursanul Haq (http://www.forsanelhaq.com/showthread.php?t=83503)

Penerjemah: Yulian Purnama

Artikel www.muslim.or.id

Kajian Umum: “Jalan Menuju Kebahagiaan” (Yogyakarta, 28 Mei 2011)

Posted: 21 May 2011 05:23 PM PDT

Hadirilah Kajian Umum dengan tema.

"JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN"

Pemateri:
Ustadz Abu Sa'ad Muhammad Nur Huda, M.A.
(Pimpinan Islamic Center Bin Baz Yogyakarta)

Insya Allah diselenggarakan pada:
Sabtu, 28 Mei 2011
Pukul 08.30 – 11.30 WIB
Di Musholla Teknologi (Mustek) Fakultas Teknik UGM, Yogyakarta (sebelah utara RSUP Dr. Sardjito)

Gratis, terbuka untuk Umum
Putra & Putri

Informasi:

  • 0857 2942 8241 (Putra)
  • 0857 2942 8242 (Putri)

Penyelenggara:
Forum Kajian Islam Mahasiswa (FKIM)