Rabu, 23 Maret 2011

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah


Hukum Memakai Barang Bajakan

Posted: 23 Mar 2011 05:00 PM PDT

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Berikut fatwaKomisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia mengenai hukum memakai barang bajakan.

Soal:

Aku bekerja sebagai akuntan. Sejak memulai pekerjaanku ini, aku menggandakan program untuk mendukung pekerjaanku. Aku menggandakan program ini tanpa aku membeli program asli. Hal ini kulakukan karean kutemukan dalam program tersebut peringatan untuk menggandakan program tadi. Lebih-lebih mereka memperingatkan bahwa hak penggandaan telah dilindungi. Sebagaimana peringatan seperti ini banyak ditemukan dalam berbagai buku. Sedangkan pemilik program ini boleh jadi seorang muslim atau pun kafir. Pertanyaannya, apakah dibolehkan melakukan penggandaan seperti ini?

Jawaban:

Tidakdibenarkanbagiandauntukmenggandakan program-program komputer  yangpemiliknyamelaranguntukdigandakankecualiatasseizinnya. Hal iniberdasarkansabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

المُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوطِهِمْ

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menuturkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallambersabda, “Umat Islam berkewajiban untuk senantiasa memenuhi persyaratan mereka.[1]Dan jugaberdasarkansabdabeliau shallallahu 'alaihi wa sallam,

لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بِطِيبة من نَفْسٍ

Tidaklah halal hartaseorangmuslimkecualiataskerelaandarinya“.[2] Dan jugaberdasarkansabdabeliau shallallahu 'alaihi wa sallam,

مَنْ سَبَقَ إِلَى مُبَاحٍ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ

Barangsiapatelahlebihdahulumendapatkansesuatu yang mubah (halal) makadialah yang lebihberhakatasnya“.Hukuminiberlakubaikpencetus program adalahseorangmuslimataukafirselainkafirharbi (yang denganterusterangmemusuhiumat Islam), karenahak-hak orang kafirselainkafirharbidihormatilayaknyahak-hakseorangmuslim.

Wabillahittaufiq,  dansemoga Allah senantiasamelimpahkanshalawatdansalamkepadaNabikita Muhammad, keluargadanseluruhsahabatnya.

Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts All 'Ilmiyyah wal Ifta' (Komisi Tetap Riset dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia)

Yang menandatangani fatwa ini:

Ketua: Syaikh 'Abdul 'Aziz bin 'Abdillah bin Baz

Wakil Ketua: Syaikh 'Abdul 'Aziz Alu Syaikh

Anggota: Syaikh Sholih Al Fauzan, Syaikh Bakr Abu Zaid

Sumber: FatawaAl Lajnah Ad Da’imah 13/188, fatwa no: 18453, Mawqi' Al Ifta' (http://alifta.net)

***

Demikian sedikit fatwa dari ulama-ulama terkemuka di abad ini.

Ketahuilah bahwa syari’at Islam mengakui adanya hak atas kekayaan intelektual, yang biasanya diwujudkan dalam bentuk karya tulisan, program komputer, karya seni atau lainnya, maka sudah sepantasnya bila kita menghormati harta kekayaan saudara kita. Ketahuilah bahwa bagaimana pun sikap kita terhadap hak-hak saudara kita, maka demikian pulalah saudara kita akan memperlakukan kita. Ingatlah pepatah Arab:

كَمَاتَدِينُتُدَان

Sebagaimana anda memperlakukan orang lain, maka demikianlah mereka akan memperlakukan anda.”

Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk menghindarkan diri dari yang haram. Hanya Allah yang memberi taufik.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id


[1]Shahih Al Jaami no. 6714. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[2]HR. All Baihaqi dan Daruquthni. Lihat Irwaul Gholil no. 1459. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Selasa, 22 Maret 2011

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah


Nama Allah Al-Hayyiyu, Yang Maha Pemalu

Posted: 22 Mar 2011 05:00 PM PDT

Dasar penetapan

Nama Allah Ta’ala yang maha indah ini disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua hadits yang shahih:

1- Dari Salman al-Farisi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا »

Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Ta’ala adalah maha pemalu lagi maha mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa[1].

2. Dari Ya’la bin Umayyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki yang mandi di tanah lapang terbuka tanpa kain penutup, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِىٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ »

“Sesungguhnya Allah Ta’ala maha pemalu lagi maha menutupi, Dia mencintai (sifat) malu dan menutup (aib/aurat), maka jika seseorang di antara kalian mandi, hendaklah dia menutup (auratnya)[2].

Berdasarkan hadits-hadits ini, para ulama menetapkan nama al-Hayiyyu (Yang Maha Pemalu) sebagai salah satu dari nama-nama Allah Ta’ala yang maha indah, seperti Imam Ibnul Qayyim[3], syaikh Abdurrahman as-Sa'di[4], syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin[5], syaikh ‘Abdur Razzak al-Badr[6] dan lain-lain.

Makna al-Hayiyyu secara bahasa

Ibnu Faris menjelaskan bahwa asal kata nama ini menunjukkan dua makna, salah satunya adalah lawan dari sifat al-waqaahah (tebal muka/tidak tahu malu)[7].

al-Fairuz Abadi menjelaskan di antara makna asal kata nama ini adalah al-hisymah (kesopanan yang tinggi)[8].

Ar-Ragib al-Ashfahani menjelaskan bahwa arti nama Allah ini adalah: Yang meninggalkan semua keburukan dan melakukan semua kebaikan[9].

Penjabaran makna nama Allah al-Hayiyyu

Imam Ibnul Qayyim berkata dalam qashiidah (syair) “an-Nuuniyyah” tulisan beliau yang terkenal:

Dialah al-Hayiyyu (Maha Pemalu) maka Dia tidak akan mempermalukan hamba-Nya

(di dunia) ketika hamba-Nya itu berbuat maksiat terang-terangan

Syaikh Muhammad Khalil Harras ketika menjelaskan makna bait syair ini, beliau berkata: “(Sifat) malu Allah Ta’ala adalah sifat yang sesuai dengan (kebesaran dan keagungan)-Nya, tidak sama dengan (sifat) malu (pada) makhluk-Nya yang berarti perubahan (sikap) dan (sifat) berkecil hati yang terjadi pada seseorang ketika dia mengkhawatirkan sesuatu aib atau celaan (pada dirinya). Adapun arti sifat malu (pada Allah Ta’ala) adalah meninggalkan sifat/perbuatan yang tidak selaras dengan kemahaluasan rahmat-Nya serta kemahasempurnaan kebaikan dan kemuliaan-Nya”[10].

Nama Allah Ta’ala yang agung ini menunjukkan bahwa Dia memiliki sifat haya’ (malu) yang sesuai dengan kemahabesaran dan kemahasempurnaan-Nya, tidak sama dengan sifat malu yang ada pada makhluk-Nya, sebagaimana keadaan sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan Allah Ta’ala lainnya. Allah Ta’ala berfirman:

{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ}

"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (QS asy-Syuura:11).

Dalam ayat lain Dia berfirman:

{فَلا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ}

"Maka janganlah kamu mengadakan penyerupaan-penyerupaan bagi Allah. Sesungguhnya Dia mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (QS an-Nahl:74)[11].

Dalam al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan sifat malu yang dinisbatkan kepada Allah Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya:

{إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا}

Sesungguhnya Allah tidak malu untuk membuat perumpamaan berupa nyamuk atau sesuatu yang lebih rendah daripada itu” (QS al-Baqarah: 26).

Juga dalam hadits yang shahih dari Abu Waqid al-Laitsi, bahwa suatu hari ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk di mesjid bersama para shahabat, datanglah tiga orang laki-laki. Lalu yang dua orang datang menuju (majelis) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan yang satu orang pergi. Kemudian kedua orang tersebut berdiri di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu salah seorang dari keduanya melihat ada tempat yang kosong pada halaqah tersebut maka dia pun duduk di tempat tersebut, sedangkan temannya duduk di belakang halaqah, sementara yang ketiga pergi meninggalkan (majelis tersebut). Lalu setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai (menyampaikan nasehat kepada para shahabat) beliau bersabda: “Maukah kalian aku sampaikan tentang keadaan ketiga orang ini? Orang yang pertama berlindung kepada Allah (dengan bergabung ke dalam majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka Allahpun menerimanya (merahmatinya), orang yang kedua merasa malu kepada Allah maka Allahpun malu kepadanya, sedangkan orang yang ketiga berpaling (meninggalkan majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka Allahpun berpaling darinya”[12].

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan makna sifat Allah Ta’ala yang agung ini dalam ucapan beliau: “Adapun (sifat) malu Allah Ta’ala terhadap hamba-Nya, maka ini adalah jenis (sifat) lain (berbeda dengan sifat makhluk), yang tidak bisa diketahui (hakikatnya) oleh pemahaman manusia dan tidak mampu digambarkan (keadaannya) oleh akal-akal mereka.

Sesungguhnya (sifat) malu Allah adalah (sifat) malu (yang disertai) kemuliaan, kebaikan, kepemurahan dan keagungan. Maka sungguh Allah Ta’ala maha pemalu lagi maha mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa, dan Dia malu untuk menyiksa seorang tua yang telah beruban dalam Islam[13].

Yahya bin Mu’adz berkata: “Maha suci (Allah) Zat yang (ketika) hamba-Nya berbuat dosa maka Dia merasa malu”. Dan dalam sebuah atsar: Barangsiapa yang malu kepada Allah maka Allahpun malu kepadanya”[14].

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di menjelaskan lebih terperinci makna sifat yang mulia ini dalam ucapan beliau: “Sifat (malu Allah Ta’ala) ini adalah dari rahmat-Nya, kemuliaan-Nya, dan kesempurnaan serta (sifat) penyantun-Nya. Seorang hamba yang berbuat maksiat (kepada-Nya) secara terang-terangan padahal hamba tersebut sangat membutuhkan (rahmat)-Nya, bahkan dia tidak mungkin bisa berbuat maksiat kecuali dengan nikmat-nikmat (yang dilimpahkan) Allah (kepadanya) sehingga dia mempunyai kekuatan untuk (melakukan) perbuatan maksiat tersebut. Allah Ta’ala yang maha sempurna kekayaan/ketidakbutuhan-Nya terhadap semua makhluk-Nya, karena kemuliaan/kemurahan-Nya Dia merasa malu untuk membuka aib dan mempermalukan hamba tersebut, serta menimpakan sikasaan kepadanya (di dunia). Bahkan Dia menutupi (aib) hamba-Nya itu dengan berbagai sebab tertutupnya aib yang dimudahkan-Nya baginya, serta memaafkan dan mengampuni (kesalahan) hamba tersebut.

Maka Allah senantiasa berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya dengan (melimpahkan) berbagai nikmat (kepada mereka), sementara mereka (justru) berbuat buruk dengan bermaksiat kepada-Nya. Karunia-Nya (turun) kepada mereka (secara terus-menerus) seperti jumlah kerdipan mata manusia, sedangkan keburukan (yang) mereka (lakukan) selalu naik (kepada-Nya).

(Allah) Yang maha kuasa dan pemurah senantiasa naik kepada-Nya semua perbuatan maksiat dan keburukan dari hamba-hamba-Nya, (tapi bersamaan dengan itu) Dia malu untuk menyiksa seseorang yang telah beruban dalam Islam, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa, dan Dia menyeru hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya serta menjanjikan pengabulan doa bagi mereka”[15].

Pengaruh positif dan manfaat mengimani nama Allah al-Hayiyyu

Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai nama-nama dan sifat-sifat-Nya sendiri, serta mencintai tampaknya pengaruh positif nama-nama dan sifat-sifat tersebut pada makhluk-Nya, karena itu termasuk konsekwensi kesempurnaan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Maka Dia maha pemalu dan mencintai orang-orang yang pemalu, maha pemurah dan mencintai orang-orang yang pemurah, maha baik dan mencintai orang-orang yang berbuat baik, maha pemaaf dan mencintai orang-orang yang suka memaafkan, maha penyantun dan menyukai orang-orang yang penyantun.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk mengamalkan kandungan dan konsekwensi dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka Dia memerintahkan kepada mereka untuk memilki sifat malu, suka berbuat baik, penyayang, pemurah dan pemaaf, sehingga hamba yang paling dicintai-Nya adalah yang memiliki sifat-sifat yang diridhai-Nya, sedangkan hamba yang paling dibenci-Nya adalah yang memiliki sifat-sifat yang tidak diridhai-Nya. Dalam hal ini dikecualikan beberapa sifat tertentu yang tidak pantas dimiliki oleh makhluk, seperti sifat merasa besar dan mengagungkan diri, karena sifat-sifat ini tidak sesuai dengan keadaan seorang hamba yang seharusnya selalu merendahkan dan menghambakan diri dihadapan-Nya, sehingga memiliki sifat-sifat tersebut di atas berarti menganiaya diri sendiri[16].

Perlu disampaikan di sini bahwa sifat malu yang Allah Ta’ala cintai pada hamba-Nya adalah sifat terpuji dan mulia yang selalu membawa kepada kebaikan, dan bukanlah seperti yang dipahami oleh orang-orang awam yang bodoh, bahwa keengganan untuk berbuat baik dan meninggalkan keburukan adalah sifat malu.

Anggapan mereka ini jelas keliru dan bertentangan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya termasuk hal yang diketahui oleh manusia dari ucapan kenabian yang terdahulu: jika kamu tidak merasa malu maka berbuatlah (keburukan) sekehendakmu[17].

Imam an-Nawawi berkata: “Para ulama menjelaskan bahwa (sifat) malu yang sebenarnya adalah suatu perangai yang selalu memotivasi (seorang hamba) untuk meninggalkan (perbuatan) yang buruk dan mencegahnya dari (sifat) kurang dalam (menunaikan) hak orang-orang yang memiliki hak (terhadapnya)”[18].

Kemudian, pengaruh positif dan manfaat mengimani nama Allah yang maha agung ini dapat kita ambil dari penjelasan makna hadits di atas. Allah Ta’ala maha pemalu dan Dia mencintai orang-orang yang memiliki sifat malu.

Oleh karena itu, hamba Allah Ta’ala yang paling dicintai-Nya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling pemalu. Sebagaimana ucapan shahabat yang mulia, Abu Sa’id al-Khudri: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang sangat pemalu (melebihi) gadis perawan dalam kamar pingitannya, sehingga jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallamshallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sesuatu yang tidak beliau r sukai maka kami (bisa) mengetahui hal itu pada wajah beliau [19].

Dalam banyak hadits yang shahih terdapat penjelasan tentang kautamaan sifat malu, anjuran untuk memilikinya dan pengaruh positifnya dalam memotivasi kebaikan bagi seorang hamba.

Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Iman itu (terdiri dari) lebih 70 cabang, yang paling tinggi adalah ucapan (persaksian): Laa ilaaha illallahu (tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan (sifat) malu adalah salah satu cabang dar iman”[20].

Dari ‘Imran bin Hushain  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Sifat) malu itu tidak mendatangkan (sesuatu) selain kebaikan”, dalam riwayat lain: “(Sifat) malu itu semuanya adalah kebaikan”[21].

Dan sifat malu yang paling agung dan paling wajib untuk dilakukan adalah malu terhadap Allah Ta’ala[22]. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Malulah kalian terhadap Allah dengan malu yang sebenarnya”. Para sahabat berkata: Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh kami merasa malu kepada-Nya, alhamdulillah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukan itu (maksudnya), akan tetapi merasa malu kepada Allah dengan malu yang sebenarnya adalah dengan menjaga kepala dan (anggota badan) yang ada padanya (dari perbuatan maksiat), menjaga perut dan (anggota badan) yang berhubungan dengannya (dari perkara yang haram), dan (selalu) mengingat kematian dan kehancuran tubuh (dalam kubur), barangsiapa yang menginginkan (balasan kebaikan di) akhirat maka dia akan meninggalkan perhiasan dunia, maka siapa yang melakukan itu semua berarti dia telah merasa malu kepada Allah dengan malu yang sebenarnya”[23].

Di samping itu, ada beberapa perbuatan baik yang termasuk konsekwensi sifat malu terhadap Allah Ta’ala, akan tetapi perbuatan-perbuatan tersebut tidak wajib hukumnya, seperti menutupi aurat meskipun di saat sendirian. Dari Mu’awiyah bin Haidah t bahwa Rasulullah r ditanya: Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika salah seorang dari kami sedang sendirian, (apakah dia boleh bertelanjang)? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah lebih berhak untuk (seorang hamba) malu terhadap-Nya dibandingkan manusia”.

Para ulama memahami perbuatan dalam hadits sebagai anjuran (keutamaan) dan bukan kewajiban, karena mereka beralasan bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala tidak ada sesuatupun dari makhluk-Nya yang tersembunyi dari-Nya, baik ketika mereka telanjang ataupun ketika berpakaian[24].

Penutup

Demikianlah, dan kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar Dia melimpahkan taufik dan kemudahan dari-Nya kepada kita untuk memiliki sifat malu yang dicintai-Nya serta semua sifat-sifat baik dan mulia lainnya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 12 Shafar 1432 H

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, MA

Artikel www.muslim.or.id


[1] HR Abu Dawud (no. 1488), at-Tirmidzi (no. 3556), Ibnu Majah (no. 3865) dan Ibnu Hibban (no. 876). Dalam sanadnya ada perawi yang bernama Ja’far bin Maimun, ada kelemahan pada riwayatnya, akan tetapi hadits ini memiliki banyak jalur yang saling menguatkan. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, Ibnu Hajar dalam “Fathul Baari” (11/147), Ibnul Qayyim dan al-Albani (Mukhtasharul ‘uluw, hal. 75).

[2] HR Abu Dawud (no. 4012), an-Nasa-i  (no. 406) dan Ahmad (4/224) dengan sanad yang hasan dan dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani.

[3] Dalam kitab "ash-Shawaa’iqul mursalah" (4/1499).

[4] Dalam kitab "Tafsiirul asma-illahil husna" (hal. 40).

[5] Dalam kitab "al-Qawaa-idul mutsla" (hal. 42).

[6] Dalam kitab "Fiqhul asma-il husna" (hal. 302).

[7] Mu’jamu maqaayiisil lughah (2/97).

[8] Kitab “al-Qamus al-muhith” (hal. 8361).

[9] Kitab “Mufraadaatu alfaazhil Qur-an” (1/282).

[10] Kitab “Syarhul qashiidatin nuuniyyah” (2/80).

[11] Lihat kitab "Fiqhul asma-il husna" (hal. 302).

[12] HSR al-Bukhari (no. 66) dan Muslim (no. 2176).

[13] Ini disebutkan dalam sebuah hadits yang lemah riwayat Ibnu ‘Asakir dalam “Tarikh Dimasyq” (64/91).

[14] Kitab “Madaarijus saalikiin” (2/261).

[15] Kitab “Tafsiiru asma-illahil husna” (hal. 41).

[16] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 304).

[17] HSR al-Bukhari (no. 5769).

[18] Kitab “Riyaadhush shaalihiin” (hal. 850).

[19] HSR al-Bukhari (no. 5751) dan Muslim (no. 2320).

[20] HSR al-Bukhari (no. 9) dan Muslim (no. 35).

[21] HSR al-Bukhari (no. 5766) dan Muslim (no. 37).

[22] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 305).

[23] HR at-Tirmidzi (no. 2458), Ahmad (1/387) dan al-Hakim (no. 7915), dalam sanadnya ada perawi yang bernama ash-Shabaah bin Muhammad dan dia lemah (Taqriibut tahdziib, hal. 274), tapi dikuatkan dari jalur lain riwat ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabiir” (no. 3192), sehingga syaikh al-Albani menyatakan hadits ini hasan dengan penguatnya (Shahiihut targiibi wat tarhiib, no. 3337). Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

[24] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (1/195).

Training SEO untuk Web Dakwah (26 Maret 2011, MEDIU Yogyakarta)

Posted: 22 Mar 2011 06:22 AM PDT

Perkembangan pesat dakwah di dunia maya membutuhkan strategi yang lebih cerdas, dalam usaha meningkatkan jumlah kunjungan. Di tengah ramainya pula berbagai konten dunia maya yang semakin bebas, sudah waktunya kini website dan blog dakwah menggunakan Search Engine Optimization (SEO) untuk meningkatkan traffic. Untuk itu, Divisi Web Dakwah YPIA dan MEDIU Learning Centre Yogyakarta mengadakan :

“Training SEO untuk Web Dakwah”

bersama : Ipan Pranashakti (pakar SEO dan online marketing, pengurus pusat Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia – KPMI)

Sabtu, 26 Maret 2011

Pukul 13.00-15.00 WIB

Tempat : MEDIU Jogja – Al Madinah International University Cabang Yogyakarta Jl. Kusumanegara No. 222, Muja-muju, Umbulharjo, Yogyakarta

Training terbuka untuk umum, dengan konfirmasi karena jumlah peserta dibatasi. Sangat direkomendasikan bagi admin website dan blog dakwah agar dapat menerapkan SEO dalam mengelola konten dan meningkatkan trafiic/jumlah kunjungan. Jangan sampai terlewat!

Konfirmasi  ke 0856.484.888.25

Senin, 21 Maret 2011

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah


Menebar Kasih Sayang

Posted: 21 Mar 2011 05:00 PM PDT

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabada :

إِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ

Sesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang (HR At-Thobrooni dalam al-Mu’jam al-Kabiir, dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam shahih Al-Jaami’ no 2377)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Para pengasih dan penyayang dikasihi dan di sayang oleh Ar-Rahmaan (Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang-pen), rahmatilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Dzat yagn ada di langit” (HR Abu Dawud no 4941 dan At-Thirmidzi no 1924 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam as-Shahihah no 925)

Kata dalam مَنْ sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah isim maushuul, yang dalam kadiah ilmu ushuul fiqh memberikan faedah keumuman. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya memerintahkan kita untuk merahmati orang yang sholeh saja… bahkan Nabi memerintahkan kita untuk merahmati seluruh manusia… dan bukan hanya manusia.. bahkan hewan-hewanpun termasuk di dalamnya.

Al-Munaawi rahimahullah berkata,

بِصِيْغَةِ الْعُمُوْمِ يَشْمَلُ جَمِيْعَ أَصْنَافِ الخَلاَئِقِ فَيُرْحَمُ البَرّ وَالفَاجِرُ وَالنَّاطِقُ والْمُبْهَمُ وَالْوَحْشُ وَالطَّيْرُ

“Sabda Nabi ((rahmatilah yang ada di bumi)) dengan konteks keumuman, mencakup seluruh jenis makhluk, maka mencakup rahmat kepada orang baik, orang fajir, orang yang berbicara, orang yang bisu, hewan dan burung” (Faidhul Qodiir 1/605)

Perhatikanlah para pembaca yang budiman… kita diperintahkan oleh Allah bukan hanya untuk merahmati manusia… bahkan kita diperintahkan untuk merahmati hewan…!!!

قال رجلٌ : يا رسول الله! إني لأذبح الشاة فأرحمُها، قال: ” والشَّاة إِنْ رَحِمْتَهَا، رَحِمَكَ اللهُ” مَرَّتَيْنِ

Seseorang berkata : “Wahai Rasulullah, aku menyembelih seekor kambing lantas aku merahmatinya”, Rasulullah berkata, “Bahkan seekor kambing jika engkau merahmatinya maka Allah akan merahmati engkau”, Rasulullah mengucapkannya dua kali (HR Al-Bukhari di Al-Adab Al-Mufrod dan dishahihkan oleh Syaikh Albani di as-Shahihah no 26)

Orang yang menyembelih seekor kambing tanpa ada rasa rahmat dengan mengasah parangnya di hadapan kambing tersebut misalnya, atau menyembelihnya dengan parang yang tidak tajam sehingga menyakiti kambing tersebut misalnya… tentu tidak sama dengan seseorang yang menyembelih kambing namun dengan rasa rahmat kepada sang kambing, sehingga ia berusaha menyembelih kambing tersebut dengan sebaik-baiknya. Orang yang merahmati kambing maka Allah akan merahmati orang tersebut, bahkan Rasulullah menegaskan hal ini sebanyak dua kali.

Bahkan dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

مَنْ رَحِمَ وَلَوْ ذَبِيْحَةً، رَحِمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa yang merahmati meskipun seekor sembelihan maka Allah akan merahmatinya pada hari kiamat” (HR Al-Bukhari di Al-Adab Al-Mufrod dan dihasankan oleh Syaikh Albani)

Seseorang yang merahamati seekor sembelihan bukan hanya dirahmati oleh Allah di dunia, bahkan dirahmati oleh Allah pada hari kiamat kelak, hari dimana setiap kita membutuhkan kasih sayang Allah.

Bahkan jika seseorang merahmati seekor anjing… renungkanlah hadits ini

بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِي إِسْرَائِيلَ فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ

Tatkala ada seekor anjing yang hampir mati karena kehausan berputar-putar mengelilingi sebuah sumur yang berisi air, tiba-tiba anjing tersebut dilihat oleh seorang wanita pezina dari kaum bani Israil, maka wanita tersebut melepaskan khufnya (sepatunya untuk turun ke sumur dan mengisi air ke sepatu tersebut-pen) lalu memberi minum kepada si anjing tersebut. Maka Allah pun mengampuni wanita tersebut karena amalannya itu” (HR Al-Bukhari no 3467 dan Muslim no 2245)

Jika merahamati seekor hewan maka mendatangkan rahmat Allah dan kasih sayang Allah maka bagaimana lagi jika kita merahmati sesama manusia ???

Merahmati seorang fajir

Perintah Allah untuk menebarkan kasih sayang berlaku umum bahkan mencakup seorang pelaku kemaksiatan –sebagaimana perkataan Al-Munaawi di atas-. Bukankah kita kasihan tatkala melihat seseroang yang terjerumus dalam kemaksiatan… kasihan kehidupannya yang pernuh dengan kegelapan di dunia, terlebih-lebih lagi jika akhirnya masuk ke dalam neraka jahannam. Bagaimana hati ini tidak tergerak untuk kasihan dan merahmatinya…??

Bagaimana hati ini tidak tergerak untuk berdakwah kepadanya…??

Bukankah sebagian kita dahulu juga seperti itu..?? bukankah sering kita menanti-nanti ada yang mendakwahi kita tatkala itu..?? sungguh hati ini sangat bersedih jika ternyata orang-orang sholeh malah menjauhi mereka para pelaku kemaksiatan… hanya bisa mencemooh tanpa berusaha mendakwahi mereka…!!!

Saya jadi teringat dengan tentang pengakuan seorang remaja yang saya dengar di Idzaa’atul Qur’aan Al-Kariim (Radio dakwah Arab Saudi). Remaja tersebut bercerita bahwa ia dahulunya adalah seorang pecandu morfin selama bertahun-tahun, dan ibunya selalu melarangnya untuk mengkonsumsi morfin, akan tetapi teguran sang ibu tidak pernah ia hiraukan. Hingga bertahun-tahun berlalu sang ibu tidak bosan-bosannya menasehati dengan penuh kelembutan dan kasih sayang adapun ia juga tidak bosan-bosannya tidak menghiraukan teguran sang ibu. Hingga akhirnya pada suatu hari di hari jum’at setelah ashar (yang merupakan waktu mustajab untuk berdoa sebagaimana pendapat sebagian ulama) maka sang ibu pun berdoa : “Yaa Allah sadarkanlah putraku atau cabutlah nyawanya agar ia berhenti dari kemaksiatannya“. Ternyata Allah mengabulkan doa sang ibu dan menyadarkannya dari kemaksiatan ini, hingga akhirnya iapun meninggalkan heroin. Demikian tutur sang pemuda.

Yang menjadi perhatian saya adalah di akhir tuturannya sang pemuda berkata, “Saya sering lewat di depan mesjid tatkala adzan dikumandangkan… dan saya tidak sholat, akan tetapi tidak seorang pun dari jama’ah masjid yang menegurku…!!!, bertahun-tahun lamanya.. tidak seorang pun dari mereka yang menegurku..!!”

Oleh karenanya para pembaca yang budiman kita juga semestinya berusaha untuk menebarkan rahmat dan kasih sayang meskipun kepada pelaku kemaksiatan dengan mendekatinya dan mendakwahinya semampu kita dengan cara yang selembut-lembutnya.

Merahmati pelaku bid’ah

Para pembaca yang budiman, termasuk pelaku kemaksiatan adalah pelaku bid’ah. Ketahuilah kebanyakan para pelaku bid’ah di zaman kita –terutama di tanah air kita- adalah orang-orang yang bodoh dan tidak paham dengan sunnah dan al-haq. Bahkan banyak diantara mereka yang sama sekali tidak mengenal dakwah sunnah, mereka mewarisi bid’ah yang mereka lakukan secara turun temurun.

Saya tidak berbicara tentang gembong-gembong bid’ah yang mengikuti hawa nafsu mereka sehingga nekad menolak atau mempelintir dalil-dalil demi melarisakan bid’ah mereka. Akan tetapi saya berbicara tentang mayoritas saudara-saudara kita yang terjerumus ke dalam bid’ah karena kejahilan dan ketidak tahuan mereka. Bukankah banyak diantara kita –bahkan sebagian besar kita- tidak mengenal sunnah sejak kecil?, akan tetapi mayoritas kita dahulu tenggelam di atas bid’ah sebagaimana kebanyakan masyarakat yang terjerumus dalam praktek-praktek bida’h. Bukankah kita mendapatkan hidayah dengan adanya seseorang salafy yang kemudian mendekat kepada kita sehingga kemudian menjelaskan sunnah kepada kita…??.

Oleh karenanya marilah kita merahmati para pelaku bid’ah dengan menyebarkan dakwah sunnah kepada mereka.

Syaikh Utsaimin berkata tentang para pelaku bid’ah:

وَهؤلاء الْمُخَرِّفُوْنَ مَسَاكِيْنُ، إِنْ نَظَرْنَا إِلَيْهِمْ بِعَيْنِ الْقَدْرِ؛ فَنَرَقَّ لَهُمْ، وَنَسْأَلُ اللهَ لَهُمُ السَّلاَمَةَ، وَإِنْ نَظَرْنَا إِلَيْهِمْ بِعَيْنِ الشَّرْعِ؛ فَإِنَّنَا يَجِبُ أَنْ نُنَابِذَهُمْ بِالْحُجَّةِ حَتىَّ يَعُوْدُوا إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ

“Para pelaku khurofat tersebut kasihan mereka, jika kita memandang mereka dengan pandangan taqdir (bahwasanya semua terjadi dengan taqdir Allah-pen) maka kita kasihan mereka, dan kita memohon kepada Allah keselamatan bagi mereka. Jika kita memandang mereka dengan pandangan syari’at mak wajib bagi kita melawan mereka dengan hujjah agara mereka kembali kepada jalan yang lurus” (Al-Qoul Al-Mufiid 1/65)

Bukankah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِِهِ

“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga ia menyukai bagi saudaranya apa yang dia sukai untuk dirinya”

Bukankah kita senang jika kita berada di atas ketaatan kepada Allah…??, maka hendaknya kita juga senang jika saudara kita juga demikian dan meninggalkan kemaksiatan yang dilakukannya. Bukankah seorang muslim yang terjerumus dalam kemaksiatan atau bid’ah juga masih merupakan saudara kita sesama muslim???

Praktek Ibnu Taimiyyah dalam merahmati pelaku bid’ah

Seseorang yang ikhlash adalah seseorang yang bersikap sesuai dengan kehendak Allah, bukan bergerak dengan kehendak hawa nafsunya. Inilah orang yang berjiwa besar. Tidak sebagaimana praktek sebagian orang yang berjiwa kecil, sehingga jika mudah marah karena mengikuti hawa nafsunya. Bahkan terkadang menghembuskan kemarahannya tersebut di balik topeng membela agama.. wallahul musta’aan.

Lihatlah bagaimana praktek Ibnu Taimiyyah terhadap musuh-musuhnya para pelaku bid’ah.. sungguh pelajaran yang sangat luar biasa.

Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah berjihad dan membantah berbagai macam model bid’ah. Oleh karenanya kita dapati mayoritas kitab-kitab beliau adalah bantahan terhadap bid’ah-bid’ah terutama bid’ah-bid’ah yang berkaitan dengan aqidah. Sehingga banyak ahlul bid’ah yang memusuhi beliau… bahkan mereka berfatwa akan kafirnya Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah. Bahkan mereka berfatwa kepada Raja untuk membunuh Ibnu Taimiyyah. Akan tetapi… apakah Ibnu Taimiyyah pernah berfikir untuk membalas dendam jika ia mendapatkan kesempatan..??? perhatikanlah tiga kisah berikut ini:

Kisah pertama : Tentang Ibnu Taimiyyah dan sulthon Ibn Qolawuun

Ibnu Katsiir rahimahullah dalam kitabnya Al-Bidaayah wa An-Nihaayah bercerita tentang kisah Ibnu Taimiyyah.

Sulthon An-Nashir Ibn Qolawuun memiliki para petinggi dari kalangan para ulama bid’ah yang memusuhi Ibnu Taimiyyah, dan mereka berfatwa kepada sang Sulthoon agar membunuh Ibnu Taimiyyah. Akan tetapi sang sulthoon hanya memenjarakan Ibnu Taimiyyah dan tidak membunuhnya. Maka pada suatu saat datanglah Al-Jaasyinkir kemudian menggulingkan dan merebut kekuasaan sang Sulthoon. Akhirnya para petinggi tersebut berkhianat dan membelot meninggalkan sang sulthoon dan membai’at Al-Jaasyinkiir. Tentu hal ini membuat murka sang sulthoon. Maka sang sulthoon akhirnya berusaha merebut kembali kekuasaannya dan akhirnya ia berhasil. Ternyata para petinggi tersebut kembali kepada sang sulthoon, yang hal ini membuat sang sulthoon marah dan mengetahui bahwasanya mereka adalah para penjilat. Akhirnya sang suthoonpun mengeluarkan Ibnu Taimiyyah dari penjara dan menyambut Ibnu Taimiyyah dengan pernuh penghormatan di hadapan para petinggi tersebut yang pernah berfatwa untuk membunuh Ibnu Taimiyyah. Lantas sang sulthoon mengeluarkan secarik kertas dari kantongnya yang ternyata isi kertas tersebut adalah fatwa para petinggi tersebut untuk membunuh Ibnu Taimiyyah. Tentunya sang sulthoon sudah menyimpan dendam yang sangat besar, dan berharap agar Ibnu Taimiyyah berfatwa sebaliknya untuk membunuh para petinggi tersebut.

Ibnu Taimiyyah berkata, “Akupun faham maksud sang Sulthoon, dan aku tahu bahwasanya ia menyimpan dendam dan kemarahan yang sangat dalam terhadap para ptinggi tersebut, karena mereka telah membelot darinya dan membai’an Al-Jasyinkir…, maka akupun mulai memuji para ulama, yaitu para petinggi tersebut, dan menyebutkan jasa mereka, dan seandainya mereka pergi maka sang sulthoon tidak akan mendapatkan petinggi-petinggi yang seperti mereka”. Sang sulthoon berkata, “Mereka (para ulama dan petinggi) tersebut telah menyakitimu dan berulang-ulang ingin agar engkau dibunuh”. Ibnu Taimiyyah berkata, “Barangsiapa yang menyakitiku maka aku telah memafkannya, dan barangsiapa yang menyakiti Allah dan RasulNya maka Allah akan membalasnya, aku tidak akan membela diriku sendiri”. Akhirnya hilanglah kemarahan sang sulthoon. (Lihat kisah ini Al-Bidaayha wa An-Nihaayah 18/93-95 (tahqiq At-Turki) dan juga Al-’Uquud Ad-Durriyyah hal 221)

Kisah kedua : Tatkala musuh beliau meninggal dunia

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih mengumpulkan sifat-sifat tersebut dari pada Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah (yaitu memafkan dan berbuat ihsan kepada orang lain). Sebagian sahabat senior Ibnu Taimiyyah berkata,

وَدِدْتُ أَنِّي لأَصْحَابِي مِثْلُهُ لأَعْدِائِهِ وَخُصُوْمِهِ

“Aku sangat berharap sikapku kepada sahabat-sahabatku sebagaimana sikap Ibnu Taimiyyah kepada musuh-musuh beliau”

Aku tidak pernah melihatnya mendoakan kejelekan kepada seorangpun dari musuh-musuhnya, bahkan beliau mendoakan mereka. Suatu hari aku mendatangi beliau member kabar gembira tentang meninggalnya musuh besarnya dan yang paling keras menentang dan menyakiti Ibnu Taimiyyah, maka beliaupun membentak aku dan mengingkari sikapku dan mengucapkan inaa lillahi wa inaa ilaihi rooji’uun. Lalu beliapun segera pergi menuju rumah keluarga musuhnya yang meninggal tersebut menyatkan turut berduka cita dan menghibur mereka dan berkata : “Sesungguhnya aku menggantikan posisinya bagi kalian. Karenanya jika kalian membutuhkan sesuatu dan bantuan maka aku akan membantu kalian” atau semisal perkataan ini, maka merekapun gembira dan mendoakan Ibnu Taimiyyah dan mereka menganggap ini perkara yang besar dari Ibnu Taimiyyah” (Lihat perkataan Ibnul Qoyyim ini di kitab beliau Madaarij As-Saalikiin 3/139-140)

Lihatlah bagaimana lapangnya hati Ibnu Taimiyyah, musuh besarnya yang sangat menentang dan paling menyakiti beliau tatkala meninggal maka Ibnu Taimiyyah segera menghibur keluarganya yang ditinggalkan. Bahkan Ibnu Taimiyyah membentak Ibnul Qoyyim yang bergembira dengan kematian musuhnya tersebut.

Kisah ketiga : Ibnu Taimiyyah dan Al-Bakri

Abul Hasan Nuurudiin Al-Bakri adalah salah seorang tokoh sufi yang membolehkan beristighotsah kepada Nabi setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang pemikirannya telah dibantah oleh Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya “Al-Istighootsah fi Ar-Rod ‘alaa Al-Bakriy”. Al-Bakri telah menyatakan bahwa Ibnu Taimiyyah adalah seorang zindiiq bahkan terkadang ia mengkafirkan Ibnu Taimiyyah. Bahkan ia bersama pengikutnya telah mengeroyok untuk memukul Ibnu Taimiyyah. Tatkala orang-orang semakin banyak berkumpul melihat pengkeroyokan tersebut maka Al-Bakry pun kabur karena ketakutan. Akhirnya datanglah banyak orang dan juga tentara kepada Ibnu Taimiyyah meminta izin kepada beliau untuk menghukumi Al-Bakri akibat perbuatannya. Akan tetapi Ibnu Taimiyyah berkata, “Aku tidak mau membela diriku”. Akan tetapi mereka tetap ngotot agar menghukumi perbuatan Al-Bakri. Akhirnya Ibnu Taimiyyah berkata, “Kalau bukan hak menghukuminya merupakan hak saya, atau merupakan hak kalian atau merupakan hak Allah. Jika hak tersebut adalah hak saya maka Al-Bakriy telah saya maafkan, dan jika hak menghukum adalah hak kalian maka jika kalian tidak mendengar nsehatku maka jangan meminta fatwa kepadaku, dan silahkan kalian melakukan apa yang kalian kehendaki. Dan jika hak adalah milik Allah maka Allah akan mengambil hakNya sesuai kehendakNya dan kapan saja Ia kehendaki”.

Maka tatkala kerajaan mencari-cari Al-Bakry untuk dihukum maka Al-Bakriy pun lari dan bersembunyi di rumah Ibnu Taimiyyah –tatkala beliau bermukim di Mesir- hingga akhirnya Ibnu Taimiyyah member syafaat agar Raja mengampuni Al-Bakriy, dan akhirnya iapun dimaafkan” (Silahkan lihat kisah ini di Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 14/76 (tahqiq Ahmad Fatiih, cet pertama, daarul hadiits Al-Qoohiroh) dan Adz-Dzail ‘alaa Tobaqoot Al-Hanaabilah 2/400)

Para pembaca yang budiman… sungguh akhlaq yang sangat mulia dari Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah. Tatkala tiba kesempatan baginya untuk membalas dendam justru ia malah memaafkan musuh-musuhnya dari kalangan Ahlul Bid’ah. Hal ini bahkan telah dipersaksikan dan diakui oleh musuh-musuhnya. Diantaranya ada yang berkata,

مَا رَأَيْنَا مِثْلَ ابْنِ تَيْمِيَّةَ، حرَّضنَا عَلَيْهِ فَلَمْ نَقْدِرْ عَلَيْهِ، وقَدِرَ عَلَينَا فَصَفَحَ عَنَّا، وَحَاجَجَ عَنَّا

“Kami tidak pernah melihat seorangpun seperti Ibnu Taimiyyah, kami berusaha untuk mengganggunya namun kami tidak mampu untuk menjatuhkannya, dan tatkala ia mampu untuk menjatuhkan kami maka iapun memaafkan kami bahkan membela kami” (Ini merupakan perkataan Ibnu Makhluuf, silahkan lihat Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 18/95 tahqiq At-Turki)

Itulah Ibnu Taimiyyah yang berjiwa besar, mengambil tindakan bukan dengan hawa nafsunya, akan tetapi dengan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal ini tidak mungkin bisa dilakukan kecuali oleh seseorang yang telah mengumpulkan keyakinan yang tinggi akan janji Allah dan kesabaran. Karena dengan dua sikap inilah (yakin dan sabar) maka seseorang akan meraih kepemimpinan dalam agama, sebagaimana yang telah diraih oleh Ibnu Taimiyyah. Beliu berkata dalam kalimat emasnya;

بِالصَّبْرِ وَالْيَقِيْنِ تُنَالُ الإِمَامَةُ فِي الدِّيْنِ

“Dengan kesabaran dan keyakinan maka akan diraih kepimimpinan dalam agama” (Al-Mustadrok ‘alaa Majmuu’ Al-Fataawaa 1/145)

Allah telah berfirman

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami (As-Sajdah ayat 24)

Para pembaca yang budiman… sungguh merupakan perkara yang sangat menyedihkan tatkala kita melihat diri kita atau sebagian kita yang sangat jauh dari akhlak orang yang kita kagumi ini yaitu Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah, yang seluruh hidupnya ia korbankan demi menegakkan aqidah dan manhaj salaf. Sungguh hati ini merasa sedih dan tersayat tatkala melihat sebagian kita mencela dan menghabisi sebagian yang lain diantara ahlus sunnah… lihatlah sikap Ibnu Taimiyyah terhadap Ahlul bid’ah yang memusuhi beliau… bahkan mengkafirkan beliau… bahkan mengroyok beliau…, ini sikap beliau terhadap Ahlul Bid’ah, bagaimana lagi sikap terhadap sesame ahlus sunnah. Ya Allah Engkau Maha Tahu bahwasanya kami para dai jauh dari sikap dan akhlaq tersebut, maka ampunilah kami Yaa Gofuur Yaa Rohiim.

Apa yang saya tuliskan ini bukan berarti saya mengingkari praktek hajr terhadap pelaku maksiat ataupun kepada ahlul bid’ah… semuanya tetap berlaku dengan menimbang antara maslahat dan mudhorot sebagaimana telah saya jelaskan dalam tulisan-tulisan saya yang lalu. Allahul Musta’aan (Silahkan lihat kembali http://www.firanda.com/index.php/artikel/manhaj/97-salah-kaprah-tentang-hajr-boikot-terhadap-ahlul-bidah-seri-2-hajr-bukan-merupakan-ghoyah-tujuan-akan-tetapi-merupakan-wasilah)

Penulis: Ustadz Firanda Andirja, MA

Artikel www. muslim.or.id