Jumat, 03 Juni 2011

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah


Kajian Umum Syaikh Muhammad Bin Sulaiman Az-Zabidiy (Yogyakarta, 4 Juni 2011)

Posted: 02 Jun 2011 09:29 PM PDT

Insya Allah akan diadakan kajian umum bersama Syaikh Muhammad bin Sulaiman az-Zabidiy Hafizhahullahu Ta'ala pada:

  • Hari / Tanggal: Sabtu / 4 Juni 2011
  • Pukul: Ba'da ashar (16.00) – selesai
  • Tempat: LC (Learning Centre) Mediu Yogyakarta
  • Jln. Kusumanegara No. 222 Mujamuju Umbulharjo Yogyakarta

Kemudian dilanjutkan:

  • Hari / Tanggal: Sabtu / 4 Juni 2011
  • Pukul: Ba'da maghrib – selesai
  • Tempat: Masjid Pogung Raya Yogyakarta (Lokasi Lihat Peta di bawah ini)
  • Penerjemah: Ustadz Arif Syarifuddin Lc.

Keterangan : Syaikh Muhammad bin Sulaiman az-Zabidiy adalah imam Masjid di Markaz Syaikh Abul Hasan al-Ma'ribiy al-Yamani.

Mimpi Ketemu Nabi

Posted: 02 Jun 2011 05:00 PM PDT

Pertanyaan

Syaikh kami, saya telah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mimpiku sebanyak tiga kali namun tidak berurutan. Apakah takwil dari mimpiku ini? Barakallahu fikum.

Jawaban

الجواب: الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمّا بعد:

Ketahuilah, sesungguhnya mimpi seorang yang bertemu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila sesuai dengan ciri-ciri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika di dunia adalah mimpi yang benar karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda,

:« مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَتَمَثَّلُ بي »

Barangsiapa melihatku dalam mimpi maka dia benar benar telah melihatku, karena syaithan tidak mampu menyerupaiku [1].

Dalam satu riwayat tercantum dengan lafadz

مَنْ رَآنِي فَقَدْ رَآى الحَقَّ

Barangsiapa melihatku dalam mimpi maka dia benar benar telah melihatku [2].

Hal itu dikarenakan melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam mimpi dapat dikatakan benar jika seorang melihat beliau dengan ciri-ciri fisik yang telah diketahui dalam syamail (sifat dan perangai) beliau. Jika tidak sesuai, maka hal itu hanyalah mimpi yang tidak benar dan merupakan permainan setan terhadap manusia, karena dia mengamuflasekan dirinya dengan suatu rupa yang dianggap oleh orang yang bermimpi bahwa rupa tersebut adalah rupa nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, apabila seseorang menceritakan kepada Ibnu Sirin rahimahullah bahwa dirinya telah melihat nabi, maka Ibnu Sirin mengatakan,

صِفْ لي الذي رأيتَه،

Sebutkan kepadaku ciri-ciri fisik beliau yang telah engkau lihat.

Apabila orang itu menyebutkan ciri-ciri yang tidak diketahui olehnya, maka Ibnu Sirin mengatakan, "Engkau tidaklah melihat beliau" [3].

Dengan ketentuan inilah dapat diketahui siapasaja yang benar-benar telah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan siapa saja yang diperdaya oleh syaithan.

.
والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا

Aljazair 7 Muharam 1427 H.

[1] أخرجه البخاري في «العلم »: (110)، وفي «الأدب »: (6179)، ومسلم في «الرؤيا »: (6056)، وابن ماجه في «تعبير الرؤيا »: (4034)، وأحمد: (7367)، من حديث أبي هريرة رضي الله عنه.

[2]أخرجه البخاري في «التعبير »: (6996)، ومسلم في «الرؤيا »: (6058)، وأحمد: (22096)، والدارمي: (2195)، من حديث أبي قتادة رضي الله عنه.

[3] علّقه البخاري في صحيحه، «كتاب التعبير » (3/449)، قال الحافظ ابن حجر رحمه الله في «الفتح »: (12/465):« وقد رويناه موصولاً من طريق إسماعيل بن إسحاق القاضي وسنده صحيح »، وانظر:« السلسلة الصحيحة »: (6-1/517).

Dikutip dari http://ikhwanmuslim.com/akidah-dan-manhaj/mimpi-ketemu-nabi

Penerjemah: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Artikel www.muslim.or.id

Kamis, 02 Juni 2011

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah


Adakah Anjuran Puasa di Bulan Rajab?

Posted: 01 Jun 2011 09:00 PM PDT

Ada faedah berharga dari Ibnu Taimiyah rahimahullah mengenai amalan di bulan Rajab termasuk berpuasa ketika itu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

أَمَّا تَخْصِيصُ رَجَبٍ وَشَعْبَانَ جَمِيعًا بِالصَّوْمِ أَوْ الِاعْتِكَافِ فَلَمْ يَرِدْ فِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْءٌ وَلَا عَنْ أَصْحَابِهِ . وَلَا أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ بَلْ قَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ . أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ إلَى شَعْبَانَ وَلَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنْ السَّنَةِ أَكْثَرَ مِمَّا يَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ مِنْ أَجْلِ شَهْرِ رَمَضَانَ . وَأَمَّا صَوْمُ رَجَبٍ بِخُصُوصِهِ فَأَحَادِيثُهُ كُلُّهَا ضَعِيفَةٌ بَلْ مَوْضُوعَةٌ لَا يَعْتَمِدُ أَهْلُ الْعِلْمِ عَلَى شَيْءٍ مِنْهَا وَلَيْسَتْ مِنْ الضَّعِيفِ الَّذِي يُرْوَى فِي الْفَضَائِلِ بَلْ عَامَّتُهَا مِنْ الْمَوْضُوعَاتِ الْمَكْذُوبَاتِ

"Adapun mengkhususkan bulan Rajab dan Sya'ban untuk berpuasa pada seluruh harinya atau beri'tikaf pada waktu tersebut, maka tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat mengenai hal ini. Juga hal ini tidaklah dianjurkan oleh para ulama kaum muslimin. Bahkan yang terdapat dalam hadits yang shahih (riwayat Bukhari dan Muslim) dijelaskan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa banyak berpuasa di bulan Sya'ban. Dan beliau dalam setahun tidaklah pernah banyak berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya'ban jika hal ini dibandingkan dengan bulan Ramadhan.

Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rajab, maka sebenarnya itu semua adalah berdasarkan hadits yang seluruhnya lemah (dho'if) bahkan maudhu' (palsu). Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran. Hadits-haditsnya bukanlah hadits yang memotivasi beramal (fadhilah amal), bahkan kebanyakannya adalah hadits yang maudhu' (palsu) dan dusta."(Majmu' Al Fatawa, 25/290-291)

So …. tidak ada yang istimewa dengan puasa di bulan Rajab kecuali jika berpuasanya karena bulan Rajab adalah di antara bulan-bulan haram, namun tidak ada keistimewaan bulan Rajab dari bulan haram lainnya. Yang tercela sekali adalah jika puasanya sebulan penuh di bulan Rajab sama halnya dengan bulan Ramadhan atau menganggap puasa bulan Rajab lebih istimewa dari bulan lainnya. Juga tidak ada pengkhususan berpuasa pada hari tertentu atau tanggal tertentu di bulan Rajab sebagaimana yang diyakini sebagian orang.

Jika memiliki kebiasaan puasa Senin-Kamis, puasa Daud, atau puasa ayyamul biid, maka tetap rutinkanlah di bulan Rajab. Bahkan bulan Ramadhan semakin dekat, maka segeralah qodho puasa Ramadhan yang ada jika memang masih ada utang puasa. Semoga Allah beri taufik untuk tetap beramal sholih.

Lihat artikel lainnya tentang “Amalan di Bulan Rajab” di web ini: klik di sini.

Riyadh-KSA, 29 Jumadats Tsaniyyah 1432 H (01/06/2011)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id

Rabu, 01 Juni 2011

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah


Sosok Teladan dalam Kebaikan

Posted: 31 May 2011 05:00 PM PDT

Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba'du.

Kita mungkin pernah mendengar istilah 'multi-talenta'. Ya, orang yang digelari dengan istilah ini artinya orang tersebut memiliki bakat dan keahlian yang beraneka-ragam, bukan satu keahlian saja. Bicara soal bakat, mungkin masing-masing orang memang berlainan. Namun, jika berbicara soal amal kebaikan, tidak selayaknya seorang muslim menyia-nyiakan berbagai pintu kebaikan yang dibukakan untuknya. Karena dengan memanfaatkan berbagai pintu kebaikan yang ada, maka seorang hamba akan bisa meraih keutamaan yang sangat agung di akherat kelak, yaitu dipanggil masuk surga dari semua pintu surga… Sungguh, sebuah harapan yang sangat mulia!

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan di dalam Shahih mereka berdua hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang menginfakkan 'sepasang hartanya' di jalan Allah maka dia akan dipanggil -oleh malaikat- dari pintu-pintu surga, 'Wahai hamba Allah! Inilah kebaikan -yang akan kamu peroleh-.' Barangsiapa yang tergolong ahli sholat, maka dia akan dipanggil dari pintu sholat. Barangsiapa yang tergolong ahli jihad, maka dia akan dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa yang tergolong ahli sedekah, maka dia akan dipanggil dari pintu sedekah. Barangsiapa yang tergolong ahli puasa, maka dia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan." Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, "Wahai Rasulullah, bahaya apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Lantas, apakah ada orang yang dipanggil dari kesemua pintu itu?". Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Ada. Dan aku berharap semoga kamu termasuk di dalamnya." (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari di beberapa tempat; [1] Kitab ash-Shaum [hadits no. 1897], [2] Kitab al-Jihad wa as-Siyar [hadits no. 2841], [3] Kitab Bad'u al-Khalq [hadits no. 3216], [4] Kitab Fadhail ash-Shahabah [hadits no. 3666], dan juga diriwayatkan oleh Imam Muslim di Kitab az-Zakah [hadits no. 1027], lihat Fath al-Bari [4/132] dan Syarh Shahih Muslim [4/351])

Makna 'Sepasang Harta'

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan 'sepasang harta' di dalam hadits di atas adalah dua buah harta yang serupa dari jenis apa saja (Fath al-Bari [4/132]). an-Nawawi rahimahullah menukil keterangan al-Harawi, bahwa tafsiran dari sepasang harta itu misalnya; dua ekor kuda, dua orang budak, atau dua ekor unta (lihat Syarh Shahih Muslim [4/351]).

Ibnu Baththal rahimahullah menerangkan bahwa yang dimaksud dengan 'sepasang harta' adalah dua buah [harta benda], seperti misalnya dua keping dinar, dua helai pakaian, dan semacamnya (lihat Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Baththal [4/15]). Lalu, apa maksudnya? an-Nawawi rahimahullah menyimpulkan bahwa ungkapan 'sepasang harta' ini menunjukkan keutamaan bersedekah dan membelanjakan harta untuk ketaatan serta [kita] dianjurkan untuk memperbanyak hal itu (lihat Syarh Shahih Muslim [4/352]). Dengan kata lain, apabila kita bersedekah maka jangan pelit-pelit…

Pintu ar-Rayyan Bagi Ahli Shaum

Hadits ini menunjukkan salah satu keutamaan ibadah puasa, yaitu bahwasanya orang-orang yang tekun mengerjakan ibadah yang agung ini kelak di akherat akan dipanggil untuk masuk surga melalui pintu ar-Rayyan. Oleh sebab itu, Imam Bukhari rahimahullah memasukkan hadits ini dalam Kitab ash-Shaum dengan judul bab 'ar-Rayyan bagi orang-orang yang berpuasa' (lihat Fath al-Bari [4/131]).

Selain hadits di atas, di dalam bab tersebut Imam Bukhari juga membawakan hadits dari Sahl bin Sa'ad radhiyallahu'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu, yang disebut dengan ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk [surga] dari pintu itu pada hari kiamat. Tidak ada seorang pun yang memasuki pintu itu selain mereka. Akan ada panggilan, 'Dimanakah orang-orang yang berpuasa?'. Maka mereka pun berdiri. Tidak ada yang melewatinya selain mereka. Apabila mereka telah masuk [semua] maka pintu itu akan ditutup sehingga tidak ada lagi seorang pun yang melewatinya." (HR. Bukhari di Kitab ash-Shaum [hadits no. 1896] dan di Kitab Bad'u al-Khalq [hadits no. 3257], dan Muslim di Kitab ash-Shiyam [hadits no. 1152], lihat Fath al-Bari [4/131] dan Syarh Shahih Muslim [4/485])

Keutamaan Infaq fi Sabilillah

Hadits ini juga menunjukkan keutamaan yang besar pada amalan infaq -membelanjakan harta- fi sabilillah. Yang dimaksud dengan fi sabilillah di sini tidak terbatas pada jihad saja. Berdasarkan riwayat yang dibawakan oleh Imam Ahmad yang artinya, "Bagi setiap ahli amalan akan dipanggil dari pintu amalan tersebut." maka al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan fi sabilillah lebih luas daripada jihad dan amal-amal salih lainnya." (Fath al-Bari [6/57]). Qadhi 'Iyadh rahimahullah menguatkan pendapat bahwa yang dimaksud fi sabilillah di sini  mencakup seluruh perkara kebaikan, sebagaimana dinukil oleh an-Nawawi (lihat Syarh Shahih Muslim [4/352]). Meskipun, kata-kata fi sabilillah jika disebutkan tanpa kaitan maka secara umum maksudnya adalah jihad sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Jauzi rahimahullah (lihat Fath al-Bari [6/55])

Walaupun, tentu saja membelanjakan harta demi keperluan jihad fi sabilillah merupakan amalan yang juga sangat utama. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu'anhu, beliau bersabda, "Barangsiapa yang mempersiapkan perbekalan untuk seorang pasukan fi sabilillah maka sesungguhnya dia telah ikut berperang. Dan barangsiapa yang membantu sanak kerabatnya yang ditinggal perang maka sesungguhnya dia juga telah ikut berperang." (HR. Bukhari di Kitab al-Jihad wa as-Siyar [hadits no. 2843] dan Muslim di Kitab al-Imarah [hadits no. 1895], lihat Fath al-Bari [6/58] dan Syarh Shahih Muslim [6/522])

Ada sebuah pelajaran menarik dari hadits ini. an-Nawawi rahimahullah berkata, "Hadits ini mengandung dorongan untuk berbuat baik/ihsan kepada orang-orang yang menunaikan tugas-tugas kemaslahatan bagi kaum muslimin atau orang-orang yang menegakkan urusan-urusan penting bagi mereka/kaum muslimin." (Syarh Shahih Muslim [6/522]). Hal jazaa'ul ihsan illal ihsan…

Keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu'anhu

Hadits ini menunjukkan keutamaan yang ada pada diri Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu'anhu. Karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan tentang beliau, "Aku berharap semoga kamu termasuk di dalamnya." Yaitu golongan orang-orang yang dipanggil dari semua pintu surga. Hal itu karena harapan dari Allah atau Nabi-Nya pasti terjadi, sebagaimana yang diterangkan oleh para ulama (lihat Fath al-Bari [7/31] dan Syarh Shahih Muslim [4/353]).

Perlu diperhatikan pula di sini, bahwa yang dimaksud dengan ahli shaum, ahli sholat, ahli sedekah, maupun ahli jihad -yang layak untuk dipanggil dari semua pintu surga itu- bukanlah orang yang semata-mata telah menunaikan kewajiban-kewajiban tersebut. Namun, yang dimaksud adalah orang-orang yang selain menunaikan yang wajib-wajib maka ia juga melakukan amal-amal yang sunnah dan konsisten dalam melaksanakannya. Abdul Wahid berkata: Seandainya ada yang bertanya, "Apakah tergolong di dalamnya orang yang [sekedar] menunaikan puasa Ramadhan, menzakati hartanya, dan melaksanakan sholat-sholat wajibnya?". Jawabnya adalah:  Bahwa yang dimaksudkan oleh hadits ini adalah ibadah-ibadah sunnah yang dilakukan secara terus-menerus dan diusahakan untuk diperbanyak. Itulah orang yang layak untuk dipanggil dari pintu-pintu surga (lihat Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Baththal [4/18], lihat juga Fath al-Bari [7/30])

Hadits ini juga mengandung pelajaran bolehnya memuji seseorang di hadapannya selama tidak dikhawatirkan orang tersebut terjerumus dalam fitnah/dosa seperti ujub dan semacamnya (lihat Syarh Shahih Muslim [4/353]). Namun, perlu kita ingat bahwa orang seperti Abu Bakar -dalam hal ilmu maupun amalan- adalah sosok yang sangat jarang ditemukan… Bahkan, di masa para sahabat sekalipun…!

Dalam hal amalan, beliau adalah sosok yang sangat unggul dibandingkan yang lainnya. Sebagaimana telah ditunjukkan dalam hadits pintu ar-Rayyan di atas; tatkala beliau menjadi orang yang dipanggil masuk surga dari semua pintu amalan. Selain itu, juga sebagaimana tercermin dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat, "Siapakah di antara kalian yang hari ini berpuasa?". Abu Bakar radhiyallahu'anhu menjawab, "Saya." Beliau bertanya lagi, "Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah memberi makan orang miskin?". Abu Bakar radhiyallahu'anhu menjawab, "Saya." Beliau kembali bertanya, "Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit?". Abu Bakar radhiyallahu'anhu kembali menjawab, "Saya." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah itu semua terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti masuk surga." (HR. Muslim di Kitab az-Zakah dan Kitab Fadha'il ash-Shahabah [hadits no. 1028], lihat Syarh Shahih Muslim [4/353] dan [8/12])

Begitu pula dalam hal ilmu, beliau adalah orang yang paling alim di antara para sahabat. Hal itu sebagaimana tergambar dengan jelas dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu'anhu, suatu saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam duduk berceramah di atas mimbar. Beliau mengatakan, "Seorang hamba yang telah diberikan pilihan oleh Allah untuk mendapatkan segala perhiasan dunia ataukah apa yang ada di sisi-Nya. Maka hamba tersebut lebih memilih apa yang ada di sisi-Nya." Abu Bakar pun menangis dan menangis. Lalu dia berkata, "Kami rela untuk menebus anda dengan bapak-bapak dan anak-anak kami (ya Rasulullah)." Dia -Abu Bakar- berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam itulah hamba yang diberi pilihan tersebut." Ternyata Abu Bakar adalah orang yang paling berilmu di antara kami tentangnya… (HR. Bukhari di beberapa tempat; [1] di Kitab ash-Shalah [hadits no. 466], [2] di Kitab Fadha'il ash-Shahabah [hadits no. 3654], [3] di Kitab Manaqib al-Anshar [hadits no. 3904] dan Muslim di Kitab Fadha'il ash-Shahabah [hadits no. 2382], lihat Syarh Shahih Muslim [8/7])

Jadilah Kunci Kebaikan!

Imam Ibnu Majah meriwayatkan di dalam Sunannya, begitu pula Ibnu Abi 'Ashim di dalam as-Sunnah hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya ada di antara manusia, orang-orang yang menjadi kunci-kunci kebaikan, penutup-penutup keburukan. Dan ada juga sebagian orang yang menjadi kunci-kunci keburukan, penutup-penutup kebaikan. Maka beruntunglah orang yang Allah jadikan sebagai pembuka pintu kebaikan, dan sungguh celakalah orang yang Allah jadikan dia sebagai pembuka pintu keburukan." (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah [1332], diambil dari 'Kaifa Takunu Miftahan Lil Khair', karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah, hal. 5). Semoga Allah menjadikan kita… sebagai kunci kebaikan…! Amin ya Mujiibas saa'iliin

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel www.muslim.or.id