Minggu, 04 Juli 2010

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah


Ar-Rabb, Yang Maha Mengatur dan Menguasai Alam Semesta

Posted: 04 Jul 2010 01:00 AM PDT

Dasar penetapan

Nama Allah Ta'ala yang maha indah ini disebutkan dalam beberapa ayat al-Qur'an, di antaranya dalam firman Allah Ta'ala,

{قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}

"Katakanlah:”Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupki dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam" (QS al-An'aam:162).

Dan dalam firman-Nya,

{قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ}

"Katakanlah:”Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu?" (QS al-An'aam:164).

Demikian pula dalam firman-Nya,

{رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ}

"Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun" (QS Shaad: 66).

Juga dalam firman-Nya,

{سَلامٌ قَوْلا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ}

"(Kepada penghuni surga dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Maha Penyayang" (QS Yaasiin:58).

Makna ar-Rabb secara bahasa

Ibnu Faris berkata, "Kata Rabb menunjukkan beberapa arti pokok, yang pertama: memperbaiki dan mengurus sesuatu. Maka ar-Rabb berarti yang menguasai, menciptakan dan memiliki, juga berarti yang memperbaiki/mengurus sesuatu[1].

Ibnul Atsir berkata, "Kata ar-Rabb secara bahasa diartikan pemilik, penguasa, pengatur, pembina, pengurus dan pemberi nikmat. Kata ini tidak boleh digunakan dengan tanpa digandengkan (dengan kata yang lain) kecuali untuk Allah Ta'ala (semata), dan kalau digunakan untuk selain-Nya maka (harus) digandengkan (dengan kata lain), misalnya: rabbu kadza (pemilik sesuatu ini)[2].

Lebih lanjut imam Ibnu Jarir ath-Thabari memaparkan, "(Kata) ar-Rabb dalam bahasa Arab memliki beberapa (pemakaian) arti, penguasa yang ditaati di kalangan orang-orang Arab disebut rabb …, orang yang memperbaiki sesuatu dinamakan rabb …, (demikian) juga orang yang memiliki sesuatu dinamakan rabb. Terkadang kata ini juga digunakan untuk beberapa arti selain arti di atas, akan tetapi semuanya kembali pada tiga arti tersebut. Maka Rabb kita (Allah Ta'ala) yang maha agung pujian-Nya adalah penguasa yang tidak ada satupun yang menyamai dan menandingi kekuasaan-Nya, dan Dialah yang memperbaiki (mengatur semua) urusan makhluk-Nya dengan berbagai nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada mereka, serta Dialah pemilik (alam semesta beserta isinya) yang memiliki (kekuasan mutlak dalam) menciptakan dan memerintahkan (mengatur)"[3].

Penjabaran makna nama Allah ar-Rabb

Ar-Rabb adalah al-Murabbii (yang maha memelihara dan mengurus) seluruh makhluk-Nya dengan mengatur urusan dan (melimpahkan) berbagai macam nikmat (kepada mereka)[4]. Maka ar-Rabb adalah Yang Maha Pencipta sekaligus Penguasa dan Pengatur alam semesta beserta isinya[5].

Makna ar-Rabb adalah yang memiliki sifat rububiyah terhadap seluruh makhluk-Nya dalam hal menciptakan, menguasai, berbuat sekehendak-Nya dan mengatur mereka.

Nama Allah yang mulia ini termasuk nama-nama Allah Ta'ala yang mengandung beberapa arti dan bukan hanya satu arti. Bahkan nama ini jika disebutkan sendirian tanpa nama Allah Ta'ala lainnya, kandungannya mencakup semua nama Allah yang maha indah dan sifat-Nya yang maha sempurna[6].

Dalam hal ini imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, "Sesungguhnya ar-Rabb adalah (zat) yang maha kuasa, yang mengadakan, pencipta, pembentuk rupa, yang maha hidup lagi berdiri sendiri dan menegakkan urusan makhluk-Nya, maha mengetahui, mendengar, melihat, luas kebaikan-Nya, pemberi nikmat, pemurah, maha memberi dan menghalangi, yang memberi manfaat dan celaka, yang mendahulukan dan mengakhirkan, yang memberi petunjuk dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya (sesuai dengan hikmah-Nya yang agung), yang menganugerahkan kebahagiaan dan menyengsarakan siapa yang dikehendaki-Nya, yang memuliakan dan menghinakan siapa yang dikehendaki-Nya, dan semua makna rububiyah lainnya yang berhak dimiliki-Nya dari (kandungan) nama-nama-Nya yang maha indah"[7].

Sifat rububiyah Allah Ta'ala ini meliputi seluruh alam semesta beserta isinya, karena Dialah yang memelihara dan mengatur semua makhluk dengan berbagai macam nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada mereka, Dialah yang menciptakan mereka dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, Dialah yang menyediakan semua kebutuhan makhluk-Nya, dan Dialah yang memberikan kepada semua makhluk penciptaan yang sesuai dengan keadaan mereka kemuadian memberi petunjuk kepada mereka untuk kebaikan dalam hidup mereka[8].

Pembagian sifat rububiyah Allah Ta'ala

Sifat rububiyah Allah Ta'ala ada dua macam:

1- Rububiyah umum yang mencakup semua makhluk, baik yang taat maupun yang selalu berbuat maksiat, yang beriman maupun kafir, yang berbahagia maupun celaka, yang mendapat petunjuk maupun yang sesat. Rububiyah ini berarti menciptakan, memberi rezki, mengatur, melimpahkan berbagai macam nikmat, memberi dan menghalangi, meninggikan dan merendahkan, menghidupkan dan mematikan, mamberi kekuasaan dan menghilangkannya, melapangkan dan menyempitkan, melapangkan semua penderitaan, menolong orang yang kesusahan dan memenuhi permohonan orang yang ditimpa kesulitan. Ini semua berlaku umum untuk selauruh makhluk-Nya, Allah Ta'ala berfirman,

{يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ}

"Semua yang ada di langit di bumi selalu meminta kepada-Nya, setiap hari Dia (memenuhi) semua kebutuhan (makhluk-Nya)" (QS ar-Rahmaan:29).

2- Rububiyah yang khusus bagi para kekasih dan orang-orang yang dicintai-Nya, yaitu dengan dia menjaga dan memberi taufik kepada mereka untuk beriman dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya, serta melimpahkan kepada mereka ilmu ma'rifatullah (mengenal Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya) dan (taufik) untuk selalu kembali/bertobat kepada-Nya, mengeluarkan mereka dari berbagai macam kegelapan (kesesatan) menuju cahaya (petunjuk-Nya), dan memudahkan mereka untuk melakukan semua kebaikan serta menjaga mereka dari semua keburukan[9].

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di berkata, "(Rububiyah) yang lebih khusus dari itu adalah penjagaan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya yang shaleh dengan memperbaiki hati, jiwa dan akhlak mereka[10].

Inilah sebabnya mengapa mayoritas doa yang diucapkan hamba-hamba Allah Ta'ala yang shaleh, yang disebutkan dalam al-Qur'an selalu diawali dengan nama Allah ar-Rabb (misalnya: Wahai Rabb kami, atau wahai Rabb-ku), karena mereka sangat mengharapkan makna yang khusus dari sifat rububiyah ini, sehingga isi doa mereka pun tidak lepas dari makna yang dijelaskan di atas[11].

Pengaruh positif dan manfaat mengimani nama Allah ar-Rabb

Mengimani Rububiyah Allah akan menumbuhkan dalam diri seorang muslim keikhlasan dalam beribadah kepada-Nya dan ketundukan yang seutuhnya di hadapan-Nya. Hal ini disebabkan karena keimanan terhadap Rububiyah Allah Ta'ala mengandung konsekwensi penetapan uluhiyah (penghambaan diri dengan ikhlas) bagi Allah Ta'ala.

Inilah yang ditunjukkan dalam firman Allah Ta'ala,

{يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ}

"Wahai manusia, beribadahlah kepada Rabb-mu (semata-mata), Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa" (QS al-Baqarah:21).

{إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ}

"Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Rabb-mu, maka beribadahlah kepada-Ku (semata-mata)" (QS al-Anbiyaa':92).

Imam Ibnul Qayyim memaparkan hal penting ini dalam ucapannya, "… Inilah tanda (adanya) tauhid uluhiyah (penghambaan kepada Allah Ta'ala yang sempurna) dalam hati seorang hamba, dan pintu masuk (yang membawa) hamba ini (mencapai kedudukan ini) adalah tauhid Rububiyah. Artinya: pintu masuk (untuk mencapai) tauhid uluhiyah adalah tauhid rububiyah.

Sesungguhnya yang pertama kali tertanam dalam hati (manusia) adalah (mengimani) keesaan Allah Ta'ala dalam Rububiyah-Nya, kemudian (kedudukannya) meningkat kepada keimanan terhadap keesaan Allah Ta'ala dalam uluhiyah-Nya. Sebagaimana hal inilah yang diserukan oleh Allah Ta'ala dalam al-Qur'an, (yaitu) dengan (pengakuan) manusia terhadap tauhid Rububiyah yang (mengandung konsekwensi) mengakui tauhid uluhiyah. Allah menegakkan argumentasi kepada mereka dengan pengakuan mereka ini, kemudian Dia menyampaikan bahwa mereka sendiri yang menentang pengakuan mereka itu dengan menyekutukan-Nya dalam uluhiyah.

Maka dalam keadaan ini terwujudlah pada diri seorang hamba tingkatan:

{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}

"Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan" (QS al-Faatihah:5).

Allah Ta'ala berfirman,

{وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ}

"Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka:”Siapakah yang menciptakan mereka? niscaya mereka menjawab:”Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?" (QS az-Zukhruf: 87).

Artinya: bagaimanakah mereka dapat dipalingkan dari mempersaksikan (kalimat) laa ilaaha illallah (tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah) dan dari penghambaan diri kepadanya semata, padahal mereka telah mempersaksikan bahwa tidak ada Rabb (penguasa dan pengatur alam semesta) dan tidak ada pencipta selaun Allah?…" [12].

Demikian pula beriman kepada Rububiyah-Nya dengan benar akan membawa seorang hamba menuju tingkatan ridha kepada Allah Ta'ala sebagai Rabb, yang berarti ridha kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan dan pilihan-Nya, serta kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya. Inilah syarat untuk mencapai tingkatan ridha kepada-Nya sebagai Rabb secara utuh dan sepenuhnya, dan ini merupakan ciri utama orang yang telah merasakan kemanisan dan kesempurnaan iman, sebagaimana sabda Rasulullah Ta'ala, "Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha dengan Allah Ta'ala sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai rasulnya"[13].

Penutup

Demikianlah, dan kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah Rabb semesta alam, agar senantiasa menganugerahkan kepada kita semua penjagaan dan taufik dari-Nya, serta semua makna Rububiyah-Nya yang khusus, sebagaimana yang dilimpahkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 5 Rabi'ul Tsani 1431 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Artikel www.muslim.or.id


[1] Kitab "Mu'jamu maqaayiisil lughah" (2/313).

[2] Kitab "an-Nihaayah fi gariibil hadits wal atsar" (2/450)

[3] Kitab "Tafsir ath-Thabari" (1/89).

[4] Ucapan syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam kitab "Tafsiirul asma-illahil husna" (hal. 47).

[5] Lihat keterangan syaikh al-'Utsaimin dalam kitab "Syarhul arba’iin an-Nawaawiyyah” (hal.43).

[6] Lihat kitab "Fiqhul asma-il husna" (hal. 79).

[7] Kitab "Bada-i'ul fawa-id" (2/473).

[8] Lihat kitab "Fiqhul asma-il husna" (hal. 80).

[9] Lihat kitab "Fiqhul asma-il husna" (hal. 80-81).

[10] Kitab "Tafsiirul asma-illahil husna" (hal. 47).

[11] Lihat kitab "Tafsiirul asma-illahil husna" (hal. 47) dan "Fiqhul asma-il husna" (hal. 81).

[12] Kitab "Madaarijus saalikiin" (1/411).

[13] HSR Muslim (no. 34).

Sabtu, 03 Juli 2010

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah


Keagungan Ilmu Asma’ wa Shifat

Posted: 03 Jul 2010 04:00 AM PDT

Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, sungguh ilmu tentang Allah  'Azza wa Jalla adalah ilmu yang paling mulia. Tidak ada jalan untuk mengenal Allah melainkan hanyalah melaui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Berikut beberapa hal yang menunjukkan keagungan ilmu tentang asma' wa shifat (nama dan sifat Allah).

Pertama

Tidak diragukan lagi bahwa ilmu mengenai  tauhid asma' wa shifat merupakan ilmu yang paling mulia dan paling utama, paling tinggi kedudukannya serta merupakan perkara yang paling penting. Kemuliaan dan keutamaan ilmu tergantung dari  kemuliaan obyek yang dipelajari. Tidak ada yang lebih mulia dan lebih utama daripada ilmu yang berkaitan dengan nama dan sifat Allah yang terdapat dalam al Quran dan as Sunah. Oleh karena itu, menyibukkan diri untuk memahaminya dan mengilmuinya serta membahasnya merupakan tujuan yang paling mulia dan maksud yang utama.

Kedua

Sesungguhnya mengenal Allah dan mengilmui tentang Allah akan menghantarkan hamba kepada kecintaan, penghormatan dan pengagungan, rasa takut dan harap, serta rasa ikhlas beramal untuk-Nya. Kebutuhan seorang hamba terhadap ilmu tersebut dan memperoleh buah dari lmu tersebut merupakan kebutuhan yang paling besar, paling utama, dan paling mulia. Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, "Tidak ada kebutuhan bagi jiwa yang lebih besar daripada mengenal  Dzat yang telah Menciptakannya, kemudian  untuk mencintai-Nya, mengingat-Nya, dan merasa senang dengan pengenalannya tersebut, serta mencari wasilah terhadap-Nya dan kedekatan di sisi-Nya. Tidak ada jalan untuk mencapai hal itu kecuali dengan mengenal sifat-sifat-Nya dan nama-nama-Nya. Semakin seorang hamba mengilmui tentang nama dan sifat Allah, dia akan lebih mengetahui tentang Allah dan semakin dekat dengan-Nya. Sebaliknya, semakin seorang hamba mengingkari nama dan sifat Allah, dia akan semakin bodoh terhadap Allah dan akan semakin benci dan jauh dari-Nya. Allah Ta'ala akan menempatkan (mengingat) seorang hamba di sisi-Nya tatkala seorang hamba memberi tempat bagi Allah dalam jiwanya". Tidak ada jalan untuk mencapainya kecuali dengan mengenal nama dan sifat-Nya serta mempelajari dan memahami maknanya.

Ketiga

Sesungguhnya tujuan Allah menciptakan makhluk dan menjadikan mereka dari tidak ada, menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya adalah untuk mengenal-Nya dan untuk beribadah kepada-Nya semata. Allah Ta'ala menjelaskan dalam firman-Nya,

اللهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ اْلأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ اْلأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًا {12}

"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu." (QS. At Thaalaq:12).

Allah Ta'ala juga berfirman,

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ {56}

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Adz Dzaariyat:56).

Tujuan penciptaan makhluk  adalah untuk hal tersebut (mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya semata) dan Allah menciptakan mereka untuk merealisasikannya. Maka kesibukan untuk mengetahui nama dan sifat Allah merupakan kesibukan terhadap tujuan penciptaan makhluk, dan meninggalkannya merupakan pengabaian terhadap tujuan pencitaan makhluk. Tidak selayaknya bagi seorang hamba (melalaikan) terhadap keutamaan Allah yang agung ini dan nikmat yang besar ini, dia bodoh terhadap Rabb-Nya dengan berpaling dari mengenal-Nya

Keempat

Salah satu rukun iman yang enam, bahkan merupakan yang paling utama dan paling pokok adalah iman kepada Allah. Dan bukanlah yang dimaksud iman itu hanya sekadar perkataan seseorang bahwa "Aku telah beriman" semata tanpa mengenal Rabb-Nya. Bahkan hakikat iman  yang sebenarnya adalah mengenal Rabb-Nya  dan bersungguh-sungguh dalam mengenal nama dan sifat-Nya sampai mencapai derajat yakin. Sebatas pengenalan seorang hamba terhadap Allah maka sebatas itu pula keimanannya. Semakin bertambah pengenalan terhadap nama dan sifat-Nya, semakin bertambah pula pengenalan seorang hamba terhadap Rabb-Nya dan semakin bertambah pula imannya. Sebaliknya, semakin kurang pengenalan seorang hamba terhadap nama dan sifat-nya semakin berkurang pula imannya. Allah Ta'ala berfirman,

…إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاؤُا … {28} ِ

" Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama" (QS. Faathir:28).

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, "Maksudnya yang takut dengan rasa takut yang sebenarnya adalah para ulama yang mengenal Allah. Karena semakin mengenal Allah Al 'Adziim, Al Qadiir, Al 'Aliim yang disifati dengan sifat yang sempurna dan dengan nama yang indah dan mulia, maka semakin sempurnalah pengenalan terhadap Allah dan semakin sempurna pula ilmu tentang nama dan sifat-Nya, rasa takut yang timbul akan semakin besar dan semakin bertambah".  Seorang ulama salaf mengungkapkan hal ini dalam perkatannya, "Barangsiapa yang paling mengenal Allah, maka dia yang paling takut kepada-Nya".

Kelima

Ilmu tentang Allah Ta'ala merupakan pokok dari segala sesuatu. Sehingga orang yang mengenal-Nya dengan pengenalan yang hakiki akan mendapatkan petunjuk dalam berbuat dan melaksanakan syariat dengan pengenalannya  terhadap sifat dan perbuatan-Nya tersebut. Karena Allah Ta'ala tidaklah berbuat kecuali merupakan konsekuensi dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Seluruh perbuatan Allah dipenuhi dengan  sikap adil, keutamaan, dan hikmah. Oleh karena itu Allah tidaklah menetapkan syariat kecuali sesuai dengan tuntutan keadilan dan hikmah. Seluruh berita yang Allah khabarkan benar dan juju, dan seeluruh perintah dan larangannya mengandung  keadilan dan hikmah.

Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, kelima hal di atas menunjukkan keutamaan ilmu asma' wa shifat dan besarnya kebutuhan hamba terhadap ilmu tersebut.  Bahkan tidak ada kebutuhan yang lebih penting daripada kebutuhan seorang hamba untuk mengenal Rabbnya yang telah menciptakannya, yang menguasainya, yang mengatur segala urusannya, yang menentukan rezeki baginya, yang tidak butuh terhadap mereka sedikitpun. Dan tidak ada jalan untuk meluruskan dan memperbaiki hal tersebut kecuali dengan mengenal-Nya, beribadah kepada-Nya, dan beriman hanya kepada Allah semata. Kebahagiaan yang didapat seorang hamba sesuai dengan pengilmuannya terhadap Allah Ta'ala dan pengamalannya dengan ilmunya tersebut, yaitu dengan  mentadabburi nama dan sifat Allah yang terdapat dalam al Quran dan as Sunnah, kemudian memahaminya dengan pemahaman yang benar. Tidak menyelewengakan maknanya, menolaknya, atau menyerupakannya dengan sifat makhluk. Segala puji bagi Allah, nama-nama-Nya yang baik dan mulia serta sifat-sifat-Nya agung.[1]

Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush shaalihat.

Penulis: Abu 'Athifah Adika Mianoki

Artikel www.muslim.or.id

[1]. Diringkas dengan sedikit perubahan dari pembahasan "Ahammiyatul 'ilmi bi asmaaillaahi wa shifaatihi" dalam kitab Fiqhul Ad'iyah wal Adzkar karya Syaikh 'Abdurrozzaq bin 'Abdulmuhsin al Badr , Jilid 1 hal 119-122. Cet, Daar Ibnu 'Affaan.

“Kesebelasan” Yang Merugi

Posted: 02 Jul 2010 05:00 PM PDT

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Berikut ini, sebelas karakter yang menjerumuskan manusia ke dalam kerugian. Semoga Allah menyelamatkan kita darinya.

[1] Memeluk agama selain Islam

Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya dan di akherat kelak dia pasti termasuk golongan orang-orang yang merugi." (QS. Ali Imran: 85). Hakekat dari ajaran agama Islam adalah; berserah diri kepada Allah dengan bertauhid, patuh kepadanya dengan melakukan ketaatan dan berlepas diri dari segala bentuk syirik dan pelakunya (lihat at-Tauhid al-Muyassar, hal. 30)

[2] Murtad dari agama Islam

Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Barangsiapa kafir setelah beriman maka sungguh sia-sia amal mereka dan di akherat dia termasuk golongan orang-orang yang merugi." (QS. al-Ma'idah: 5). Kemurtadan bisa dibagi menjadi tiga bentuk; [1] Keyakinan, seperti halnya menghalalkan sesuatu yang jelas-jelas haram dalam agama dan telah dimengerti dengan gamblang oleh setiap orang misalnya menghalalkan zina dan minum khamr. [2] Perbuatan, seperti halnya bersujud kepada makhluk, melempar mushaf al-Qur'an secara sengaja ke dalam comberan, dsb. [3] Ucapan, seperti halnya mengolok-olok adanya surga dan neraka, atau mengatakan bahwa dia tidak puas dengan hukum-hukum syari'at, dsb. (lihat Matn al-Ghayah wa at-Taqrib ta'liq Majid al-Hamawi, hal. 310-311)

[3] Berbuat syirik

Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan nabi-nabi sebelummu; bahwa jika kamu berbuat syirik niscaya akan terhapus seluruh amalmu dan kelak kamu pasti termasuk golongan orang-orang yang merugi." (QS. az-Zumar: 65). Syirik terbagi 2; akbar dan ashghar. Syirik akbar; mengeluarkan dari agama, pelakunya -jika meninggal dan tidak bertaubat- maka kekal di neraka, menghapuskan semua amalan, menyebabkan bolehnya menumpahkan darah dan mengambil hartanya. Syirik ashghar; tidak mengeluarkan dari agama, apabila pelakunya masuk neraka maka tidak kekal, tidak menghapuskan semua amalan namun hanya amalan yang tercampurinya, tidak menyebabkan bolehnya menumpahkan darah atau mengambil hartanya (lihat at-Tauhid al-Muyassar, hal. 20)

[4] Lemah iman dan tidak berpendirian

Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi, maka jika dia memperoleh kebaikan (kesenangan dunia) dia merasa puas, dan jika dia ditimpa suatu cobaan (musibah) dia berbalik ke belakang (murtad). Dia rugi di dunia dan di akherat. Itulah kerugian yang nyata." (QS. al-Hajj: 11). Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama'ah; diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan, diamalkan dengan anggota badan, bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan (lihat at-Tauhid al-Muyassar, hal. 45). Iman itu bercabang-cabang dan berbeda-beda tingkatannya, ada di antaranya jika ditinggalkan menyebabkan kekafiran, ada yang jika ditinggalkan menyebabkan dosa besar atau kecil, dan ada pula yang jika ditinggalkan menyebabkan tersia-siakannya pahala (lihat Mujmal Masa'il Iman, hal. 14)

[5] Tidak beramal salih dan tidak berdakwah

Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Demi masa. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran." (QS. al-'Ashr: 1-3). Mutharrif bin Abdullah berkata, "Baiknya hati adalah dengan baiknya amalan. Adapun baiknya amalan adalah dengan baiknya niat." Ibnul Mubarak berkata, "Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil karena niatnya." Ibnu 'Ajlan berkata, "Amal tidak akan baik kecuali dengan tiga hal; ketakwaan kepada Allah, niat yang baik, dan benar/sesuai tuntunan." Fudhail bin Iyadh berkata, "Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan." (lihat Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, hal. 19). Dakwah juga termasuk bagian dari amal ibadah, sehingga harus ikhlas dan sesuai tuntunan (lihat al-Hujaj al-Qawiyyah, hal. 11)

[6] Mendustakan perjumpaan dengan Allah

Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Sungguh merugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah. Sehingga apabila kiamat datang kepada mereka secara tiba-tiba, maka mereka berkata; 'Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu.' Sementara mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu." (QS. al-An'aam: 31). Barangsiapa yang mendustakan hari kebangkitan maka dia telah kafir (lihat QS. At-Taghabun: 7).

[7] Menentang ayat-ayat Allah

Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "(dan) barangsiapa yang ringan timbangan kebaikannya (karena timbangan keburukan/dosanya lebih berat), maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami." (QS. al-A'raaf: 9)

[8] Mengangkat setan sebagai pelindung

Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Barangsiapa yang menjadikan syaitan sebagai wali/pelindung maka sesungguhnya dia telah menderita kerugian yang sangat nyata." (QS. an-Nisaa': 119). Bagaimana musuh justru dijadikan teman? Sementara Allah ta'ala berfirman mengisahkan ucapan Iblis sang pemuka syaithan (yang artinya), "Karena Engkau telah menetapkan aku sesat, pasti aku akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian aku pasti akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur." (QS. al-A'raaf: 16-17). Gangguan Iblis 'dari arah kiri', menurut penafsiran sebagian ulama dimaknakan dengan kemaksiatan yang diperintahkan dan dianjurkan Iblis yang dihias-hiasi olehnya supaya tampak indah dan menarik (lihat Ighatsat al-Lahfan, hal. 137).

[9] Berbuat kerusakan di bumi

Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "(orang fasik yaitu) orang-orang yang melenggar perjanjian Allah setelah perjanjian itu diteguhkan dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi." (QS. al-Baqarah: 27). Melakukan kemaksiatan adalah bentuk dari berbuat kerusakan di bumi (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 48).

[10] Merasa aman dari makar Allah

Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Apakah mereka merasa aman dari makar Allah, tidak ada yang merasa aman dari makar Allah selain orang-orang yang merugi." (QS. al-A'raaf: 99). Merasa aman dari makar Allah tergolong dosa besar yang sangat besar karena ia bertolak belakang dengan nilai-nilai tauhid. Termasuk bentuk merasa aman dari makar Allah adalah terus bertahan di atas kemaksiatan namun mengangankan ampunan Allah (lihat Fath al-Majid, hal. 346-347)

[11] Bergabung dengan hizbu syaithan

Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Ingatlah bahwa sesungguhnya hizb syaithan itulah orang-orang yang merugi." (QS. al-Mujadilah: 19). Termasuk dalam golongan hizb syaithan adalah kaum munafikin yang memberikan loyalitas kepada orang kafir (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 847)

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel www.muslim.or.id

Kamis, 01 Juli 2010

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah


PENGUMUMAN MAHASISWA MEDIU PER 1 JULI 2010

Posted: 01 Jul 2010 04:10 AM PDT

Berikut ini adalah daftar nama mahasiswa yang diterima di MEDIU (Al Madina International University) LC Yogyakarta:

1.        احلام ناجي حزام القح (Bachelor Of Islamic Sciences (hons) In The Science Of Al-quran)

2.       عبده طه محمد الجعملي (Bachelor Of Islamic Sciences (hons) In The Science Of Al-quran)

3.       FAIZAL FIRMANSYAH (Bachelor Of Islamic Sciences (hons) In The Science Of Al-quran)

4.       KHAIRUL WAZNI MUHAMMAD YASIN (Master In ‘Aqidah (Coursework + Project Paper / Case Study)

5.       ARIF SYARIFUDIN (Master In Fiqh Al-Sunnah (Coursework + Thesis)

6.       MUHAMMAD ABDUH (Bachelor Of Islamic Sciences (hons) In Al-hadith)

7.       KHOLID BIN SYAMHUDI (Master In Fiqh Al-Sunnah (Coursework + Thesis)

8.       MUTASIM MUHAMMAD MUNIR (Master In Fiqh (Coursework + Project Paper / Case Study)

9.       BANGUN SARWO AJI WIBOWO (Master in Fiqh Al-Sunnah (Coursework + Project Paper / Case Study)

10.   RIZAL YULIAR PUTRANANDA (Master In Fiqh Al-Sunnah (Coursework + Thesis)

11.   MUHAMMAD ASHIM (Master In ‘Aqidah (Coursework + Project Paper / Case Study)

Pengumuman ini per tanggal 1 Juli 2010 dan masih terbuka peluang. Kepada para calon mahasiswa yang sudah mendaftar dan masih belum melengkapi persyaratan, harap segera melengkapi persyaratan dan mengirimkannya ke LC Yogyakarta. Kepada mahasiswa yang sudah diterima di program S2 yang mengambil model Tesis, diharapkan segera mengumpulkan pokok proposal Tesis yang meliputi:

1.       Rencana Judul Tesis dengan judul yang ringkas dan jelas

2.       Topik pembahasan dan permasalahan

3.       Tujuan pembahasan

4.       Metodologi dan Batasan Masalah

5.       Manfaat ilmiah

6.       Studi sebelumnya yang terkait dengan judul tesis (minimal 5)

Informasi umum dan pendaftaran, dapat menghubungi:
LC MEDIU Yogyakarta
JL Kusumanegara No.22 Muja-Muju, Umbulharjo Yogyakarta
Telp +62 274 376 751
HP: +62 852 2830 2205
YM: mediuinfo

Soal-133: Maulid Nabi Merupakan Sarana Sebagaimana Internet?

Posted: 01 Jul 2010 01:00 AM PDT

Apakah dibenarkan alasan orang yang mengatakan bahwa maulid hanya sarana sementara tujuannya adalah kecintaan kepada nabi, sebagaimana penggunaan internet yang merupakan sarana yang tujuannya adalah dakwah?

Dijawab Oleh Ust Aris Munandar. SS

Jawabannya Klik Player:

Download

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now

Waktu-Waktu Terkabulnya Do’a

Posted: 01 Jul 2010 12:20 AM PDT

Sungguh berbeda Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan makhluk-Nya. Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Lihatlah manusia, ketika ada orang meminta sesuatu darinya ia merasa kesal dan berat hati. Sedangkan Allah Ta’ala mencintai hamba yang meminta kepada-Nya. Sebagaimana perkataan seorang penyair:

الله يغضب إن تركت سؤاله  وبني آدم حين يسأل يغضب

"Allah murka pada orang yang enggan meminta kepada-Nya, sedangkan manusia ketika diminta ia marah"

Ya, Allah mencintai hamba yang berdoa kepada-Nya, bahkan karena cinta-Nya Allah memberi ‘bonus’ berupa ampunan dosa kepada hamba-Nya yang berdoa. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi:

يا ابن آدم إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان منك ولا أبالي

"Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku mengampuni dosamu dan tidak aku pedulikan lagi dosamu" (HR. At Tirmidzi, ia berkata: ‘Hadits hasan shahih’)

Sungguh Allah memahami keadaan manusia yang lemah dan senantiasa membutuhkan akan Rahmat-Nya. Manusia tidak pernah lepas dari keinginan, yang baik maupun yang buruk. Bahkan jika seseorang menuliskan segala keinginannya dikertas, entah berapa lembar akan terpakai.

Maka kita tidak perlu heran jika Allah Ta’ala melaknat orang yang enggan berdoa kepada-Nya. Orang yang demikian oleh Allah ‘Azza Wa Jalla disebut sebagai hamba yang sombong dan diancam dengan neraka Jahannam. Allah Ta’ala berfirman:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

"Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina" (QS. Ghafir: 60)

Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah Maha Pemurah terhadap hamba-Nya, karena hamba-Nya diperintahkan berdoa secara langsung kepada Allah tanpa melalui perantara dan dijamin akan dikabulkan. Sungguh Engkau Maha Pemurah Ya Rabb…

Berdoa Di Waktu Yang Tepat

Diantara usaha yang bisa kita upayakan agar doa kita dikabulkan oleh Allah Ta’ala adalah dengan memanfaatkan waktu-waktu tertentu yang dijanjikan oleh Allah bahwa doa ketika waktu-waktu tersebut  dikabulkan. Diantara waktu-waktu tersebut adalah:

1. Ketika sahur atau sepertiga malam terakhir

Allah Ta’ala mencintai hamba-Nya yang berdoa disepertiga malam yang terakhir. Allah Ta’ala berfirman tentang ciri-ciri orang yang bertaqwa, salah satunya:

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُون

"Ketika waktu sahur (akhir-akhir malam), mereka berdoa memohon ampunan" (QS. Adz Dzariyat: 18)

Sepertiga malam yang paling akhir adalah waktu yang penuh berkah, sebab pada saat itu Rabb kita Subhanahu Wa Ta’ala turun ke langit dunia dan mengabulkan setiap doa hamba-Nya yang berdoa ketika itu. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا ، حين يبقى ثلث الليل الآخر، يقول : من يدعوني فأستجيب له ، من يسألني فأعطيه ، من يستغفرني فأغفر له

"Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman: ‘Orang yang berdoa kepada-Ku akan Ku kabulkan, orang yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberikan, orang yang meminta ampunan dari-Ku akan Kuampuni‘" (HR. Bukhari no.1145, Muslim no. 758)

Namun perlu dicatat, sifat ‘turun’ dalam hadits ini jangan sampai membuat kita membayangkan Allah Ta’ala turun sebagaimana manusia turun dari suatu tempat ke tempat lain. Karena tentu berbeda. Yang penting kita mengimani bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia, karena yang berkata demikian adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam diberi julukan Ash shadiqul Mashduq (orang jujur yang diotentikasi kebenarannya oleh Allah), tanpa perlu mempertanyakan dan membayangkan bagaimana caranya.

Dari hadits ini jelas bahwa sepertiga malam yang akhir adalah waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak berdoa. Lebih lagi di bulan Ramadhan, bangun di sepertiga malam akhir bukanlah hal yang berat lagi karena bersamaan dengan waktu makan sahur. Oleh karena itu, manfaatkanlah sebaik-baiknya waktu tersebut untuk berdoa.

2. Ketika berbuka puasa

Waktu berbuka puasa pun merupakan waktu yang penuh keberkahan, karena diwaktu ini manusia merasakan salah satu kebahagiaan ibadah puasa, yaitu diperbolehkannya makan dan minum setelah seharian menahannya, sebagaimana hadits:

للصائم فرحتان : فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه

"Orang yang berpuasa memiliki 2 kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya kelak" (HR. Muslim, no.1151)

Keberkahan lain di waktu berbuka puasa adalah dikabulkannya doa orang yang telah berpuasa, sebagaimana sabda  Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

ثلاث لا ترد دعوتهم الصائم حتى يفطر والإمام العادل و المظلوم

‘"Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil dan doanya orang yang terzhalimi" (HR. Tirmidzi no.2528, Ibnu Majah no.1752, Ibnu Hibban no.2405, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi)

Oleh karena itu, jangan lewatkan kesempatan baik ini untuk memohon apa saja yang termasuk kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Namun perlu diketahui, terdapat doa yang dianjurkan untuk diucapkan ketika berbuka puasa, yaitu doa berbuka puasa. Sebagaimana hadits

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

"Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka puasa membaca doa:

ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

/Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah/

(‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah’)" (HR. Abu Daud no.2357, Ad Daruquthni 2/401, dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/232)

Adapun doa yang tersebar di masyarakat dengan lafazh berikut:

اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين

adalah hadits palsu, atau dengan kata lain, ini bukanlah hadits. Tidak terdapat di kitab hadits manapun. Sehingga kita tidak boleh meyakini doa ini sebagai hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.

Oleh karena itu, doa dengan lafazh ini dihukumi sama seperti ucapan orang biasa seperti saya dan anda. Sama kedudukannya seperti kita berdoa dengan kata-kata sendiri. Sehingga doa ini tidak boleh dipopulerkan apalagi dipatenkan sebagai doa berbuka puasa.

Memang ada hadits tentang doa berbuka puasa dengan lafazh yang mirip dengan doa tersebut, semisal:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال : اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت فتقبل مني إنك أنت السميع العليم

"Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka membaca doa: Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim"

Dalam Al Futuhat Ar Rabbaniyyah (4/341), dinukil perkataan Ibnu Hajar Al Asqalani: "Hadits ini gharib, dan sanadnya lemah sekali". Hadits ini juga di-dhaif-kan oleh Al Albani di Dhaif Al Jami’ (4350). Atau doa-doa yang lafazh-nya semisal hadits ini semuanya berkisar antara hadits dhaif atau munkar.

3. Ketika malam lailatul qadar

Malam lailatul qadar adalah malam diturunkannya Al Qur’an. Malam ini lebih utama dari 1000 bulan. Sebagaimana firmanAllah Ta’ala:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Malam Lailatul Qadr lebih baik dari 1000 bulan" (QS. Al Qadr: 3)

Pada malam ini dianjurkan memperbanyak ibadah termasuk memperbanyak doa. Sebagaimana yang diceritakan oleh Ummul Mu’minin Aisyah Radhiallahu’anha:

قلت يا رسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها قال قولي اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني

"Aku bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, menurutmu apa yang sebaiknya aku ucapkan jika aku menemukan malam Lailatul Qadar? Beliau bersabda: Berdoalah:

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni ['Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dan menyukai sifat pemaaf, maka ampunilah aku'']"(HR. Tirmidzi, 3513, Ibnu Majah, 3119, At Tirmidzi berkata: "Hasan Shahih")

Pada hadits ini Ummul Mu’minin ‘Aisyah Radhiallahu’anha meminta diajarkan ucapan yang sebaiknya diamalkan ketika malam Lailatul Qadar. Namun ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan lafadz doa. Ini menunjukkan bahwa pada malam Lailatul Qadar dianjurkan memperbanyak doa, terutama dengan lafadz yang diajarkan tersebut.

4. Ketika adzan berkumandang

Selain dianjurkan untuk menjawab adzan dengan lafazh yang sama, saat adzan dikumandangkan pun termasuk waktu yang mustajab untuk berdoa.  Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ثنتان لا تردان أو قلما تردان الدعاء عند النداء وعند البأس حين يلحم بعضهم بعضا

"Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang" (HR. Abu Daud, 2540, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Nata-ijul Afkar, 1/369, berkata: "Hasan Shahih")

5. Di antara adzan dan iqamah

Waktu jeda antara adzan dan iqamah adalah juga merupakan waktu yang dianjurkan untuk berdoa, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

الدعاء لا يرد بين الأذان والإقامة

"Doa di antara adzan dan iqamah tidak tertolak" (HR. Tirmidzi, 212, ia berkata: "Hasan Shahih")

Dengan demikian jelaslah bahwa amalan yang dianjurkan antara adzan dan iqamah adalah berdoa, bukan shalawatan, atau membaca murattal dengan suara keras, misalnya dengan menggunakan mikrofon. Selain tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah  Shallallahu’alaihi Wasallam, amalan-amalan tersebut dapat mengganggu orang yang berdzikir atau sedang shalat sunnah. Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

لا إن كلكم مناج ربه فلا يؤذين بعضكم بعضا ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة أو قال في الصلاة

"Ketahuilah, kalian semua sedang bermunajat kepada Allah, maka janganlah saling mengganggu satu sama lain. Janganlah kalian mengeraskan suara dalam membaca Al Qur’an,' atau beliau berkata, 'Dalam shalat'," (HR. Abu Daud no.1332, Ahmad, 430, dishahihkan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Nata-ijul Afkar, 2/16).

Selain itu, orang yang shalawatan atau membaca Al Qur’an dengan suara keras di waktu jeda ini, telah meninggalkan amalan yang di anjurkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, yaitu berdoa. Padahal ini adalah kesempatan yang bagus untuk memohon kepada Allah segala sesuatu yang ia inginkan. Sungguh merugi jika ia melewatkannya.

6. Ketika sedang sujud dalam shalat

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد . فأكثروا الدعا

"Seorang hamba berada paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah berdoa ketika itu" (HR. Muslim, no.482)

7. Ketika sebelum salam pada shalat wajib

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

قيل يا رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الدعاء أسمع قال جوف الليل الآخر ودبر الصلوات المكتوبات

"Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, kapan doa kita didengar oleh Allah? Beliau bersabda: "Diakhir malam dan diakhir shalat wajib" (HR. Tirmidzi, 3499)

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam Zaadul Ma’ad (1/305) menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘akhir shalat wajib’ adalah sebelum salam. Dan tidak terdapat riwayat bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabat merutinkan berdoa meminta sesuatu setelah salam pada shalat wajib. Ahli fiqih masa kini, Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata: "Apakah berdoa setelah shalat itu disyariatkan atau tidak? Jawabannya: tidak disyariatkan. Karena Allah Ta’ala berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ

"Jika engkau selesai shalat, berdzikirlah" (QS. An Nisa: 103). Allah berfirman ‘berdzikirlah’, bukan ‘berdoalah’. Maka setelah shalat bukanlah waktu untuk berdoa, melainkan sebelum salam" (Fatawa Ibnu Utsaimin, 15/216).

Namun sungguh disayangkan kebanyakan kaum muslimin merutinkan berdoa meminta sesuatu setelah salam pada shalat wajib yang sebenarnya tidak disyariatkan, kemudian justru meninggalkan waktu-waktu mustajab yang disyariatkan yaitu diantara adzan dan iqamah, ketika adzan, ketika sujud dan sebelum salam.

8. Di hari Jum’at

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر يوم الجمعة ، فقال : فيه ساعة ، لا يوافقها عبد مسلم ، وهو قائم يصلي ، يسأل الله تعالى شيئا ، إلا أعطاه إياه . وأشار بيده يقللها

"Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyebutkan tentang hari  Jumat kemudian beliau bersabda: ‘Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta’. Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut" (HR. Bukhari 935, Muslim 852 dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu)

Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari ketika menjelaskan hadits ini beliau menyebutkan 42 pendapat ulama tentang waktu yang dimaksud. Namun secara umum terdapat 4 pendapat yang kuat.

Pendapat pertama, yaitu waktu sejak imam naik mimbar sampai selesai shalat Jum’at, berdasarkan hadits:

هي ما بين أن يجلس الإمام إلى أن تقضى الصلاة

"Waktu tersebut adalah ketika imam naik mimbar sampai shalat Jum’at selesai" (HR. Muslim, 853 dari sahabat Abu Musa Al Asy’ari Radhiallahu’anhu).

Pendapat ini dipilih oleh Imam Muslim, An Nawawi, Al Qurthubi, Ibnul Arabi dan Al Baihaqi.

Pendapat kedua, yaitu setelah ashar sampai terbenamnya matahari. Berdasarkan hadits:

يوم الجمعة ثنتا عشرة يريد ساعة لا يوجد مسلم يسأل الله عز وجل شيئا إلا أتاه الله عز وجل فالتمسوها آخر ساعة بعد العصر

"Dalam 12 jam hari Jum’at ada satu waktu, jika seorang muslim meminta sesuatu kepada Allah Azza Wa Jalla pasti akan dikabulkan. Carilah waktu itu di waktu setelah ashar" (HR. Abu Daud, no.1048 dari sahabat Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhu. Dishahihkan Al Albani di Shahih Abi Daud). Pendapat ini dipilih oleh At Tirmidzi, dan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah. Pendapat ini yang lebih masyhur dikalangan para ulama.

Pendapat ketiga, yaitu setelah ashar, namun diakhir-akhir hari Jum’at. Pendapat ini didasari oleh riwayat dari Abi Salamah. Ishaq bin Rahawaih, At Thurthusi, Ibnul Zamlakani menguatkan pendapat ini.

Pendapat keempat, yang juga dikuatkan oleh Ibnu Hajar sendiri, yaitu menggabungkan semua pendapat yang ada. Ibnu ‘Abdil Barr berkata: "Dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa pada dua waktu yang disebutkan". Dengan demikian seseorang akan lebih memperbanyak doanya di hari Jum’at tidak pada beberapa waktu tertentu saja. Pendapat ini dipilih oleh Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu ‘Abdil Barr.

9. Ketika turun hujan

Hujan adalah nikmat Allah Ta’ala. Oleh karena itu tidak boleh mencelanya. Sebagian orang merasa jengkel dengan turunnya hujan, padahal yang menurunkan hujan tidak lain adalah Allah Ta’ala. Oleh karena itu, daripada tenggelam dalam rasa jengkel lebih baik memanfaatkan waktu hujan untuk berdoa memohon apa yang diinginkan kepada Allah Ta’ala:

ثنتان ما تردان : الدعاء عند النداء ، و تحت المطر

"Doa tidak tertolak pada 2 waktu, yaitu ketika adzan berkumandang dan ketika hujan turun" (HR Al Hakim, 2534, dishahihkan Al Albani di Shahih Al Jami’, 3078)

10. Hari Rabu antara Dzuhur dan Ashar

Sunnah ini belum diketahui oleh kebanyakan kaum muslimin, yaitu dikabulkannya doa diantara shalat Zhuhur dan Ashar dihari Rabu. Ini diceritakan oleh Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhu:

أن النبي صلى الله عليه وسلم دعا في مسجد الفتح ثلاثا يوم الاثنين، ويوم الثلاثاء، ويوم الأربعاء، فاستُجيب له يوم الأربعاء بين الصلاتين فعُرِفَ البِشْرُ في وجهه
قال جابر: فلم ينزل بي أمر مهمٌّ غليظ إِلاّ توخَّيْتُ تلك الساعة فأدعو فيها فأعرف الإجابة

"Nabi shalallahu 'alaihi wasalam berdoa di Masjid Al Fath 3 kali, yaitu hari Senin, Selasa dan Rabu. Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu diantara dua shalat. Ini diketahui dari kegembiraan di wajah beliau. Berkata Jabir : ‘Tidaklah suatu perkara penting yang berat pada saya kecuali saya memilih waktu ini untuk berdoa,dan saya mendapati dikabulkannya doa saya‘"

Dalam riwayat lain:

فاستجيب له يوم الأربعاء بين الصلاتين الظهر والعصر

"Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu di antara shalat Zhuhur dan Ashar" (HR. Ahmad, no. 14603, Al Haitsami dalam Majma Az Zawaid, 4/15, berkata: "Semua perawinya tsiqah", juga dishahihkan Al Albani di Shahih At Targhib, 1185)

11. Ketika Hari Arafah

Hari Arafah adalah hari ketika para jama’ah haji melakukan wukuf di Arafah, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah. Pada hari tersebut dianjurkan memperbanyak doa, baik bagi jama’ah haji maupun bagi seluruh kaum muslimin yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Sebab Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

خير الدعاء دعاء يوم عرفة

"Doa yang terbaik adalah doa ketika hari Arafah" (HR. At Tirmidzi, 3585. Di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)

12. Ketika Perang Berkecamuk

Salah satu keutamaan pergi ke medan perang dalam rangka berjihad di jalan Allah adalah doa dari orang yang berperang di jalan Allah ketika perang sedang berkecamuk, diijabah oleh Allah Ta’ala. Dalilnya adalah hadits yang sudah disebutkan di atas:

ثنتان لا تردان أو قلما تردان الدعاء عند النداء وعند البأس حين يلحم بعضهم بعضا

"Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang" (HR. Abu Daud, 2540, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Nata-ijul Afkar, 1/369, berkata: "Hasan Shahih")

13. Ketika Meminum Air Zam-zam

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ماء زمزم لما شرب له

"Khasiat Air Zam-zam itu sesuai niat peminumnya" (HR. Ibnu Majah, 2/1018. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah, 2502)

Demikian uraian mengenai waktu-waktu yang paling dianjurkan untuk berdoa. Mudah-mudahan Allah Ta’ala mengabulkan doa-doa kita dan menerima amal ibadah kita.

Amiin Ya Mujiibas Sa’iliin.

Penulis: Yulian Purnama

Artikel www.muslim.or.id

Soal-132: Maulid Nabi Merupakan Adat?

Posted: 30 Jun 2010 07:00 PM PDT

Apakah hukum bagi orang yang mengatakan  ”kita melakukan maulid nabi karena merupakan kebiasaan saja” ?

Dijawab Oleh Ust Aris Munandar. SS

Jawabannya Klik Player:

Download

This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now